untukmendeteksi penyakit kanker serviks dengan mengklasifikasi hasil biopsi pasien berdasarkan atribut yang mempengaruhi risiko kanker serviks dari dataset sebuah Rumah Sakit di Caracas, Venezuela. Data tersebut berjumlah 858 data dalam kondisi imbalanced data karena terdapat kelas yang mendominasi dari kelas lainnya.
Kankerpayudara merupakan keganasan pada jaringan payudara yang dapat berasal dari epitel duktus maupun lobulusnya. Penyebab kanker payudara belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara antara lain jenis kelamin wanita, usia >50 tahun, riwayat keluarga, riwayat penyakit
disirkumsisi(OR = 2,092) merupakan faktor risiko kejadian kanker serviks. Kata kunci: Kanker serviks, pembalut, sabun, status sirkumsisi Abstract Cervical cancer is the most malignant
Kankerserviks adalah kanker ginekologi yang merupakan penyebab kematian terbanyak kedua di dunia diestimasikan 80% terjadi di Negara berkembang yang diakibatkan adanya infeksi dari Human Papilloma Virus (HPV) diperberat oleh beberapa faktor risiko antara lain
Olehkarena itu, perlu upaya pencegahan melalui deteksi dini kanker serviks berupa tindakan pap smear. Namun, kunjungan untuk melakukan pap smear bertambah tahun semakin menunjukkan penurunan. Hal tersebut dapat memperkirakan akan ada banyak pula wanita yang belum terdeteksi terutama pada wanita yang mempunyai faktor risiko kanker serviks.
Faktorrisiko kanker payudara adalah segala sesuatu yang dapat mempengaruhi kemungkinan seseorang menderita kanker payudara. Beberapa faktor risiko tidak dapat diubah seperti usia atau riwayat keluarga, tetapi ada juga faktor risiko yang berhubungan dengan gaya hidup seperti merokok dan minum alcohol. Untuk mendeteksi dini kanker serviks
. Kanker serviks adalah jenis penyakit kanker yang menyerang bagian serviks atau leher rahim wanita. Sayangnya, keberadaan kanker ini seringkali baru terdeteksi ketika kondisinya sudah cukup parah. Agar dapat mengurangi risiko yang dimiliki, penting bagimu mengetahui apa penyebab kanker serviks. Penyebab dan faktor risiko kanker serviks Pada dasarnya, penyebab penyakit kanker serviks belum dapat dipastikan. Tapi, penyakit ini dimulai ketika sel-sel sehat atau normal pada leher rahim mengalami mutasi atau perubahan DNA sehingga menjadi sel-sel abnormal. Sel-sel tersebut kemudian tumbuh dan berkembang dengan cepat serta tidak Menurut organisasi kesehatan dunia WHO, pada tahun 2020, terdapat sekitar wanita yang terdiagnosis mengalami kanker serviks. Penyakit ini juga menyebabkan kematian di seluruh dunia. Walau penyebab pastinya belum diketahui, ada sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko kanker leher rahim. Berikut sederet faktor penyebab kanker serviks yang perlu diperhatikan 1. Infeksi HPV atau human papillomavirus Sebagian besar kasus kanker serviks berkaitan dengan infeksi HPV atau human papilloma virus. HPV adalah sekelompok virus, bukan hanya satu jenis virus. Terdapat sekitar 100 jenis dari virus ini, tapi hanya jenis tertentu yang dapat memicu kanker serviks. Adapun jenis virus HPV yang paling umum jadi penyebab kanker serviks adalah HPV-16 dan HPV-18. Wanita berisiko tertular virus HPV apabila ia aktif melakukan hubungan seksual yang Virus HPV juga dapat menjadi penyebab jenis kanker lainnya, baik pada pria maupun wanita. Misalnya, kanker vagina, kanker penis, kanker anus, kanker vulva, kanker mulut, kanker tenggorokan, dan lainnya. Namun, terkadang ada virus HPV yang tidak menimbulkan gejala apa pun. Kamu mungkin bisa menemukannya pada kutil kelamin, maupun kelainan abnormal lainnya pada kulit. 2. Perilaku seks berisiko Melakukan hubungan seks yang berisiko bisa menjadi faktor penyebab kanker serviks Salah satu faktor penyebab kanker serviks yang paling tinggi adalah kebiasaan melakukan hubungan seksual yang berisiko. Perilaku ini termasuk aktif secara seksual sejak usia 18 tahun, melakukan hubungan seks dengan banyak pasangan, atau berhubungan seks dengan orang yang terinfeksi HPV. Semakin banyak jumlah orang yang pernah melakukan hubungan seks denganmu atau berhubungan seks dengan orang yang terinfeksi HPV, semakin tinggi pula risikomu untuk tertular infeksi HPV yang menjadi penyebab kanker serviks. 3. Infeksi menular seksual Jika sebelumnya kamu memiliki riwayat terkena infeksi menular seksual, risiko untuk mengalami kanker serviks juga akan semakin tinggi. Salah satu jenis infeksi menular seksual yang bisa menjadi penyebab kanker serviks adalah klamidia. Klamidia adalah penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri ini biasanya dapat menular melalui kontak Beberapa hasil studi menyebutkan bahwa bakteri penyebab klamidia dapat membantu virus HPV tumbuh pada area reproduksi sehingga meningkatkan risiko kanker serviks. Sayangnya, penyakit klamidia yang dialami oleh wanita terkadang tidak menimbulkan gejala yang mencolok. Akibatnya, kamu mungkin tidak tahu kalau mengidap penyakit seksual ini sampai menjalani pemeriksaan ke dokter. Selain klamidia, infeksi menular seksual lain juga bisa menjadi penyebab penyakit kanker serviks, termasuk gonore, sifilis, dan HIV/AIDS. Baca Juga Seputar Vaksin Kanker Serviks bagi Wanita 4. Sistem kekebalan tubuh yang lemah Faktor risiko yang dapat meningkatkan penyebab kanker serviks adalah sistem kekebalan tubuh yang lemah. Ketika sistem imun tubuh lemah, virus HPV akan lebih mudah untuk masuk dan berkembang di dalam tubuh. Umumnya, kondisi ini lebih rentan dialami oleh orang yang mengidap penyakit HIV/AIDS. Selain itu, wanita yang menggunakan obat untuk menekan daya tahan tubuh imunosupresan, seperti pengobatan penyakit autoimun, juga berisiko untuk terinfeksi HPV yang menjadi penyebab kanker leher rahim. 5. Pemakaian pil KB Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pil KB atau kontrasepsi oral dalam jangka waktu lama juga menjadi penyebab kanker serviks. Akan tetapi, setelah kamu tidak lagi menggunakan pil KB, faktor risiko ini dapat menurun. Bahkan, kondisinya bisa kembali normal setelah kamu berhenti minum pil KB. Maka dari itu, pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan minum pil KB, terutama jika kamu memiliki satu atau lebih faktor risiko kanker serviks. Konsultasi dengan dokter juga bertujuan mengetahui risiko lain atau efek samping yang mengintai di balik penggunaan pil KB. 6. Hamil di usia terlalu muda Hamil pada usia terlalu muda atau kurang dari usia 20 tahun juga meningkatkan risiko terkena kanker leher rahim. Perempuan yang hamil pertama kali sebelum berusia 20 tahun memiliki risiko terkena kanker serviks di kemudian hari yang lebih tinggi daripada perempuan yang hamil di usia 25 tahun atau lebih. 7. Sudah beberapa kali hamil Wanita yang pernah hamil dan melahirkan lebih dari 3 kali juga diduga lebih berisiko untuk terkena kanker serviks. Hal ini dapat terjadi akibat sistem kekebalan tubuh yang melemah dan perubahan hormon yang terjadi selama masa kehamilan. Akibatnya, seseorang menjadi lebih rentan terhadap penularan infeksi HPV. 8. Kebiasaan merokok Merokok tidak hanya membahayakan pelakunya, tapi juga orang lain di sekitarnya perokok pasif. Bahkan, tak hanya paru-paru, organ tubuh lain juga dapat rusak akibat zat-zat berbahaya yang terkandung dalam rokok. Zat-zat ini akan diserap ke dalam paru-paru dan dibawa ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Tak ayal apabila kebiasaan merokok pada wanita dapat meningkatkan risiko kanker serviks 2 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Zat berbahaya dalam rokok diduga memicu rusaknya DNA pada sel-sel serviks sehingga berpotensi memicu kanker leher rahim. Di samping itu, kebiasaan merokok juga dapat membuat sistem kekebalan tubuh menjadi kurang efektif dalam melawan HPV. 9. Riwayat kanker serviks dalam keluarga Faktor keturunan bisa meningkatkan risiko kanker serviks Faktor keturunan termasuk hal yang dapat meningkatkan risiko kanker Sebagai contoh, apabila memiliki ibu atau saudara perempuan kandung yang menderita kanker leher rahim, risikomu untuk terkena penyakit yang sama juga akan tersebut lebih tinggi. Namun, tidak diketahui secara pasti apakah hal ini terkait dengan kesalahan gen yang diturunkan atau karena perilaku berisiko, seperti merokok. 10. Usia Wanita yang berusia di bawah 20 tahun jarang terkena kanker serviks. Namun, risikonya dapat meningkat antara usia remaja akhir dan pertengahan usia 30-an. Baca Juga Apakah Cara Mendeteksi Kanker Serviks Melalui Darah Haid Bisa Dilakukan? 11. Pola hidup tidak sehat Pola hidup tidak sehat juga bisa menjadi penyebab kanker serviks. Wanita yang memiliki kebiasaan makan kurang sehat, termasuk tidak mengonsumsi sayur dan buah, dapat memicu kondisi ini. Selain itu, wanita yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas lebih berisiko untuk mengalami kanker leher rahim. 12. Paparan obat diethylstilbestrol DES Diethylstilbestrol adalah obat hormonal yang diberikan pada wanita untuk mencegah keguguran antara tahun 1938-1971. Wanita yang ibunya mengonsumsi DES saat hamil berisiko mengembangkan adenokarsinoma sel jernih pada vagina atau Risiko ini menjadi lebih tinggi pada wanita yang ibunya mengonsumsi DES, khususnya selama 16 minggu pertama kehamilan. Sementara jenis kanker ini sangat jarang dialami oleh terjadi pada wanita yang belum pernah terpapar DES. Usia rata-rata wanita yang didiagnosis dengan adenokarsinoma sel jernih terkait DES adalah 19 tahun. Namun, tidak ada batasan usia yang aman dari kondisi tersebut bagi wanita yang terpapar DES saat berada dalam rahim. Walau begitu, sebuah penelitian dalam Journal of Genital Tract Disease, menemukan bahwa kondisi ini jarang terjadi pada wanita yang berusia lebih dari 50 tahun. Bahkan, tidak ditemukan kasus kanker serviks atau vagina yang berhubungan dengan DES setelah usia 65 tahun. Itulah beberapa penyebab penyakit kanker serviks yang dapat terjadi. Penting untuk mewaspadai sejumlah faktor yang bisa dihindari agar jauh dari penyakit tersebut. Catatan SehatQ Ada sejumlah faktor penyebab yang meningkatkan risiko kanker serviks, dari infeksi HPV, perilaku seks berisiko, infeksi menular seksual, riwayat kehamilan, usia, hingga pola hidup tidak sehat. Penting untuk melakukan skrining serviks secara teratur guna mencegah kanker serviks. Dengan ini, perubahan sel abnormal pada area ini dapat terdeteksi sedini mungkin. Skrining kanker serviks seperti pap smear dapat dilakukan setiap 3 tahun sekali untuk wanita berusia 21-65 tahun. Baca Juga Obat Alami Kanker Serviks, Benarkah Ampuh? Jika memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai penyebab kanker serviks, kamu bisa mengunjungi klinik online spesialis onkologi di aplikasi kesehatan keluarga Download aplikasinya di App Store dan Google Play sekarang!
Background The aim of the study is to find risk factors associated with cervical cancer in East Kalimantan. Methods This was a case-control study conducted in Sjahranie County General Hospital at Samarinda East Kalimantan. There were 58 patients for each case and control group. Variables in this study were age, menarche, menopause, age of first marriage, parity, spouse’s smoking status, hormonal contraception use, type of hormonal contraception, duration of hormonal contraception, IUD intra uterine device contraception use and duration of IUD contraception. Result Final data analysis shows that parity and duration of hormonal contraception use increased the risk of cervical cancer. Women who had 5-12 children than 0-4 children had increased risk to be cervical cancer. Compared to women never use of hormonal contraception, those who ever had hormonal contraception for 1-4 years and 5-25 years had two time and times increased risk to be cervical cancer respectively. Conclusion It recommended that cervical cancer screening can be focused on high-risk groups, women with the number of 27 children born more than five people, or women in particular users of hormonal contraception methods with a range of use more than five years. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free iProceeding of DAAD - IGHEPMaternal and Child HealthSummer School18 -27 November 2013Mulawarman University - Udayana UniversityOrganized byIndonesian-German Health Education Partnership IGHEPFaculty of Medicine, Mulawarman UniversityIndonesian Medical Association of East Kalimantan IDIKalimantan TimurFaculty of Medicine and Health Sciences, Udayana University iiProceeding of DAAD - IGHEP Maternal andChild Health Summer SchoolEditorsHera NirwatiNi Nyoman Ayu DewiAuthorsAdharianaAryatiDwi Bahagia FebrianiHasanuddinHera NirwatiHermanus SuhartonoI Putu Yudha HanantaIstianaKen Indra TLeli SaptawatiLia Galih Yogya TamaLukman AriwibowoMarihot PasaribuNataniel TandirogangThis size of book 15 x 21 cmNumber of page 213 + ixISBN ISBN 978-602-294-012-8Published byUdayana University PressAddressJl. PB Sudirman Denpasar 80232 BaliNi Nyoman Ayu DewiPrasenoPudjo HartonoPuspa LestariR. Lia KusumawatiRahmat BakhtiarRetno DanartiRizalinda SjahrilRoudhotul Ismaillya NoorSunardi RadionoSwandari ParamitaThomas ChayadiTitik NuryastutiZinatul Hayati iiiPREFACEForewordProducing a book, any book , is no t easy, mu ch lesscollaborating with scientist from a half of the planet, twocontinents of Europe and Asia, with myriad facts, data, design,controversy, review and approve. It’s mystifying to me that a bookever makes it at all, and always a thrill when it two years ago, I met dr. Yadi, one of our young creativelecturers, who is now pursuing hisPhD degree pro gram inHasanuddin University and one of 2012 Summer School Programat Göt tingen - Germany atte ndants. He informed m e thatMulawarman Medical School would be chosen as one of host ofa migratory summer school program on November 2013. Andhe acutely asked me to handle this big international event, whichI accept right away for its great potential in development ofresearch for East Kalimantan, especially in Medical Faculty ofMulawarman event, furthermore, was continuedfor 3 days in Faculty of Medicine and Health Sciences Summer School committee was formed with permissionof the Dean of Mulawarman Medical School, dr. Emil BachtiarMoerad, pulmonologist. That committee was collaborated withIndonesian Medical Association East Kalimantan Region, and bychance, I as its President, and East Kalimantan Government Officeas a major was Professor Uwe Groß, Head of Institute for MedicalMicrob iology, Georg-August University Göttingen, who firstexplained to me from our initial correspondences and then detailexplanation is also been given in his speech at Opening Ceremonyof Summer-school program, held at Mulawarman Medical school ivCampus in Samarinda from November 18 - 23, 2013 the uniquegenesis of the points on how Summerschool was begun, afterTsunami disaster, 2004, in Aceh. Since that time, IndonesianGer man H e alth Educational Par tn e rship I GHEP – DAA Dcollaborated with Syah Kuala University, have been promotingscientif ic and medical collaborati ng th rough am deeply impressed as much as I am grateful to ProfessorUwe Groß for his visionary insight in research and his willing tocollaborate with Indonesian Medical Faculty which was mostlyjust started in research program. The pr ogram played animportant role on gathering scientific ideas among Indonesianscientist especially from Mulawarman University. Those brilliantworks and ideas of European and Asian scientist are compiled inthis proceeding thanks delivered to Dr. H. Awang Faro ek Ishak,Governor of East Kalimantan Province, who always give greatsupport and encouragement for every scientific events for hisgreat vision on development of human being through educationand y thanks t o dr. Em i l Bach t iar Moerad , Dean ofMulawarman Medical School, all four Vice Dean and all supportingFaculty member and staff who facilitated the program’s venue,and dr. Rachim Dinata SpB, Director of A. W. S hospital, who’salso partner teaching hospital of Medical Faculty of MulawarmanUniversity, with ever y doctors and managerial s taf who helpedorganized and co ndu cted Case Pr ese ntation and o ne dayseminar, part of the summer school which was venued in thehospital. And also many thanks to everyone who helped otherparts of this Summer School in and out of commendation goes to dr. Panuturi Sinaga, dr. dr. Achlia, Dr. dr. Swandari, Mrs. Nana and Ms. Rahma vwho continously worked very hard starting from preparation andnonstop throughout this workshop to make sure it ran would like a lso expre ss my gr atitu de to org anizingcommittee in Denpasar Bali for a good team work in arrangingthe for printing the proceeding is acknowledged fromEast Kalimantan Government Office and Indonesian MedicalAssociation East Kalimantan a thank you to Dr. dr. Hera Nirwati, who playedan integral role in creating this Proceeding book, and a heartfeltnote of appreciation to all contributors who made this Proceedingbook possible and hopefully our partnership in research andinternationally collaboration will sustain and enhance in the Ibrahim Consultant Neurosurgeon,Chief of Neurosurgery Dept - Abdul Wahab Sjahranie Hospital /Mulawarman Medical School. Samarinda - East Kalimantan. viCONTENTS1-12 Berbagai Metode untuk Mendeteksi ToxoplasmagondiiMultiple Approaches for Detecting ToxoplasmagondiiNi Nyoman Ayu Dewi13-25 Penggunaan Dana Bantuan Operasional KesehatanBOK dalam Kegiatan Promotif dan PreventifProgram Kesehatan Ibu dan Anak pada KeluargaMiskinCan Health Operational Cost Program BOK be Usedfor Maternal and Child Programme as Promotive andPreventive on Poor PeopleRahmat Bakhtiar26-43 Analisis Faktor Risiko Kanker Serviks di KalimantanTimurRisk Factor Analysis of Cervical Cancer in East KalimantanSwandari Paramita44-64 Seroprevalensi Antibodi IgG Anti Toxoplasmagondii pada Wanita Usia Subur di BanjarmasinBaratSeroprevalence of Antibody IgG Anti Toxoplasma gondiiin Women at Childbearing Age in West BanjarmasinIstiana65-79 Penggunaan Pewarnaan Giemsa dalam MendeteksiInfeksi Chlamydia pada Perempuan Tidak Hamil diKlinik Ginekologi dr. Wahidin Sudirohusodo viiUtilization of Giemsa Staining in the Detection ofChlamydial Infection among Non Pregnant WomenPresenting at The dr. Wahidin Sudirohusodo Hospital’sGyneacology ClinicRizalinda Sjahril80-95 Deteksi dan Serotiping Virus Dengue dari SerumPenderita Demam Dengue di Medan MenggunakanReverse Transkriptase PCRDetection and Serotyping of Dengue Virus from DengueFever PatientsSerumin Medan by using ReverseTranscriptasePCRR. Lia Kusumawati96-109 Isolasi dan Identifikasi Streptokokus Grup BSGB dari Sekret Vagina Penderita VaginosisBakterialisIsolation and Identification Group B StreptococcusGBS from Vaginal Discharge of Patients with BacterialVaginosisZinatul Hayati110-117 Prevalensi dan Pola Kepekaan AntimikrobaAcinetobacter ba uma nnii yang D i iso lasi d ariSpesimen Klinik di RSUP H. Adam Malik HospitalMedan, Januari - Desember 2012Prevalence and Antimicrobial Susceptibility Pattern ofAcinetobacter baumannii Isolated from Clinical Specimensin H. Adam Malik Hospital Medan, January - December2012R. Lia Kusumawati118-125 Pengaruh Asam Folat dalam Kehamilan TerhadapRisiko Cacat pada JaninThe Effect of Folic Acid in Pregnancy on the Risk ofBirth DefectsHasanuddin viii126-133 Upaya Pengendalian dan Pencegahan Infeksi diBangsal Perawatan Anak RSUD Dr. MoewardiSurakarta, Jawa Tengah, IndonesiaThe Infection Control Activities in Pediatric Wards atDr. Moewardi Hospital RSDM Surakarta, Central Java,IndonesiaLeli Saptawati134-146 Perspektif Imunolog i Dema m R e mat i k danPenyakit Jantung Rematik pada AnakA Review of Immunology Perspective Pediatric RheumaticFever and Rheumatic Heart DiseasePuspa Lestari, Nataniel Tandirogang147-157 Genotiping HPV dan Pola Infeksi HPV PenderitaKanker Serviks di RSUD Dr. SoetomoHPV Genotyping and HPV Infection Pattern of CervicalCancer Patients in Dr. Soetomo HospitalRoudhotul Ismaillya Noor, Aryati, Pudjo Hartono158-169 Perbandingan Ekspresi Protein Bak dan IndeksApoptosis Sel Trofoblas pada KehamilanPreeklampsiaBerat dan Kehamilan NormotensiComparison of Trophoblast Cell Bak Protein Expressionand Apoptotic Index between Severe Preeclampsia andNormotensive PregnancyMarihot Pasaribu170-182 Interpretasi Hasil Uji Sitomegalovirus pada WanitaHamilInterpretation of Cytomegalovirus CMV Assay inPregnant WomenTitik Nuryastuti, Praseno183-194 Periventrikular Leukomalasia Post Infeksi SerratiamarcescensPeriventricular Keukomalacia after Serratia marcescensInfectionDwi Bahagia Febriani, Adhariana ix195-203 Pola Kepekaan S. aureus yang Diisolasi dari AnakPenderita Pioderma Terhadap Berbagai MacamAntibiotika di Waingapu, Sumba, Nusa TenggaraTimurSensitivity Pattern of S. aureus Isolated from Children withPyoderma Against VariousAntibiotics in Waingapu, Sumba,East Nusa TenggaraHera Nirwati, Sunardi Radiono, Lukman Ariwibowo, IPutu Yudha Hananta, Lia Galih Yogya Tama, RetnoDanarti204-213 Dinamika Serum Hormon Anti-Müllerian padaHiperstimulasi Ovarium TerkontrolSerum Anti-Müllerian Hormone AMH Dynamicsduring Controlled Ovarian HyperstimulationHermanus Suhartono, Thomas Chayadi, Ken Indra T 26Analisis Faktor Risiko Kanker Serviks diKalimantan TimurRisk Factor Analysis of Cervical Cancer inEast KalimantanSwandari ParamitaBagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas KedokteranUniversitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan TimurEmail swandariparamita The aim of the study is to find risk factorsassociated with cervical cancer in East This was a case-control study conducted in County General Hospital at Samarinda East were 58 patients for each case and control group. Variables inthis study were age, menarche, menopause, age of first marriage,parity, spouse’s smoking status, hormonal contraception use, typeof hormonal contraception, duration of hormonal contraception, IUDintra uterine device contraception use and duration of Final data analysis shows that parity and duration ofhormonal contraception use increased the risk of cervical who had 5-12 children than 0-4 children had risk to be cervical cancer. Compared to women never useof ho rmonal contraception, those who ever had hor monalcontraception for 1-4 years and 5-25 years had two time and increased risk to be cervical cancer It recommended that cervical cancer screeningcan be focused on high-risk groups, women with the number of 27children born more than five people, or women in particular us-ers of hormonal contraception methods with a range of use morethan five cervical cancer, risk factors, parity, hormonal contraceptionPendahuluanKanker serviks adalah kanker terbesar kedua penyebab kematianpada perempuan di dunia dengan angka kematian mencapai per tahun. Sekitar kasus baru dilaporkan di seluruhdunia setiap tahunnya dan hampir 80% diantaranya terjadi di negaraberkembang. Sebanyak kasus muncul di Afrika, kasusdi AmerikaSelatan dan yang terbanyak adalah kasus di serviks berada di peringkat ketiga untuk kanker yang palingsering ditemukan pada perempuan diIndonesia. Diperkirakan kasus baru setiap tahun di Indonesia dengan angka kematiansebesar kasus setiap tahun atau lebih dari separuhnya MOHRI,2007; WHO, 2010.Kanker serviks berbeda dari kanker lainnya karena memilikiupayapreventif yang terbukti keberhasilannya melalui Pap smeardanvaksinasi HPV Human Papillomavirus Burd, 2003.Meskipun memilikiupaya preventif, namun pada kenyataannya kanker serviks masihmenjadi masalah kesehatan utama di ini terbukti denganmasih besarnya masalah yang terjadi khususnya di negaraberkembang seperti Indonesia WHO, 2010.Kanker serviks juga berbeda dari kanker lainnya karena telahberhasil diidentifikasi etiologinya, yaitu HPV. Sejak tahun 1996, WHOsecara resmi menetapkan HPV sebagai etiologinya. Deng anperkembangan teknologi dalam bidang biologi molekuler, hinggakini telah ditemukan DNA HPV pada hampir 100% jaringankarsinomasel skuamosaserviks dan lebih dari 70% jaringan adenokarsinomaserviks Motoyama et al., 2004. 28Meskipun HPV merupakan etiologi kanker ser viks, namunternyata HPV hanya menjadi necessary cause terjadinya kankerserviks Schiffman dan Castle, 2003; Chen dan Hunter, 2005. Halini didukung fakta bahwa infeksi HPV sendiri menjadi salah satupenyakit menular seksual yang paling sering terjadi di dunia,namun ternyata tidak semua infeksi HPV akan berkembangmenjadi kanker. Berarti bahwa infeksi HPV saja tidak dapatmenimbulkan kanker, tetapi perlu adanya faktor-faktor risikolainnya Junget al., 2004; Shields et al., 2004.Paritas tinggi, kontrasepsi hormonal dan merokok merupakanfaktor risiko yang selalu menunjukkan hubungan konsistendengan terjadinya kanker serviks Castellsagué dan Muñoz, 2003;Schiffman dan Kjaer, 2003.Hingga kini belum pernah dilakukan penelitian mengenaibagai-man a h ubun g an antar a fak tor-f aktor r isiko denganterjadinya kanker serviks di Kalimantan Timur. Pentingnya haltersebut dilakukan karena prevalensi kanker serviks menempatiperingkat atas untuk kanker yang ditemukan pada wanita di In-donesia. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini dilakukanunt u k m encar i a danya hubungan a ntar a f aktor-f aktorrisikodengan terjadinya kanker PenelitianJenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasionalberbasis populasi yang dilakukan di rumah sakit hospital-basedstudy. Desain penelitian yang digunakan adalah dilaksanakan di Bagian Obstetri-Ginekologi PoliklinikRawat Jalan dan Bangsal Rawat Inap dan Laboratorium PatologiAnatomi RSUD Sjahranie Samarinda. Setiap responden yangmenjadi sampel penelitian harus terlebih dahulu menandatanganiinformed consent yang menyatakan persetujuannya diikutsertakandalam penelitian ini. Pelaksanaan penelitian ini telah mendapatkanethical clearance dari Komisi Etik Penelitian Fakultas KedokteranUniversitas Brawijaya Malang untuk persetujuan pelaksanaanpenelitian pada manusia. 29Dalam penelitian ini yang termasuk dalam kelompok kasusadalah pasien dengan hasil pemeriksaan histopatologi terhadapbiopsi ser viks yang menunjukkan adanya proses termasuk dalam kelompok kontrol adalah pasiendengan hasil pemeriksaan histopatologiterhadap biopsi serviks yangtidak menunjukkan adanya proses keganasan. Baik untuk kelompokkasus dan kontrol diambil dari hasil pemeriksaan yang dilakukan diLaboratorium Patologi Anatomi RSUD Sjahranie Samarindadalam kurun waktu penelitian selama 6 bulan mulai 1 Januari 2009sampai dengan 31 Juli perhitungan maka jumlahsampel yang harus diteliti untuk masing-masing kelompok kasus dankontrolsebanyak 58 sampel dilakukan dengan cara purposive sam-pling. Dalam cara ini diambil responden penelitian yang memenuhikriteria inklusi dan eksklusi dari pasien yang dirawat di BagianObstetri-Ginekologi RSUD Sjahranie Samarinda rawat jalan danrawat inap, hingga tercapai jumlah sampel inklusi dalam penelitian ini adalah wanita dewasa yangberusia diatas 17 tahun dan/atau sudah menikah yang menyetujuiuntuk ikut berpartisipasi dalam penelitian ini. Pasien yang diambiladalah yang menjalani pemeriksaan histopatologi terhadap jaringanserviksnya. Jaringan serviks yang diambil bisa berasal dari hasil biopsiserviks atauhasil operasi histerektomi yang diambil sebagian jaringanserviksnya untuk pemeriksaan eksklusi dalam penelitian ini adalah mereka yang menolakuntuk ikut berpartisipasi dalam penelitian ini. Kriteria eksklusi jugaberlaku jika pasien dalam rekam medisnya tercatat menderita kankerselain kanker serviks atau memiliki keluargadalamhubungan sedarahsatu tingkat ke atas, sederajat maupun satu tingkat ke bawah yangmenderita kanker jenis terikat dalam penelitian ini adalah kanker bebas dalam penelitian ini adalah umur, menarche,menopause, usia pertama kali menikah, paritas, status merokok 30suami, kontrasepsi hormonal, jenis kontrasepsi hormonal, lamakontrasepsi hormonal, serta ko ntrasepsi IUD intra uterine devicedan lama kontrasepsi data dilakukan untuk melihat adanya hubungan danbesarnya risiko antara variabel terikatkanker serviks dan variabelbebas umur, menarche, menopause, usia pertama kali menikah,par itas, status meroko k suami, kontrasepsi hormonal, jeniskontrasepsi hormonal, lama kontrasepsi hormonal, kontrasepsi IUDdan lama kontrasepsi IUD. Untuk melihat adanya hubungan dilakukandenganchi-squaretest. Jika terdapat paling tidak satu sel yang memilikiexpected count kurang dari 5, maka tidak dapat dilakukan chi-squaretest, sehingga harus dilakukan fisher’s exact test. Untuk mencaribesarnya risiko dilakukan dengan perhitungan OR odds ratio. Keduacara tersebut didapat menggunakan program SPSS versi fisher’s exact testdinyatakan berhubungan secarasignif ikan jika ditemukan nilai p1. Selainnilai OR, juga harus diperhatikan nilai 95% CI 95% confidence interval,dimana OR benar-benar menjadi faktor risiko jika lebih besar dari 1dengan rentang nilai 95% CI yang juga lebih besar dari multivariat juga dilakukan untuk menguji secarabersama-sama seluruh variabel bebas, sehingga dapat dilihat variabel manayang paling berpengaruh terhadap kanker serviks. Karena variabelterikat dan variabel bebasnya berskala nominal, maka analisis yangdigunakan adalah regresi logistik. Hasil analisis regresi logistikdinyatakan berhubungan secara signifikan jika ditemukan nilai p<0,05. Hasil analisis multivariat ini juga didapat menggunakan programSPSS versi PenelitianJumlah pasien yang menjadi sampel dalam penelitian inisebanyak 116 orang, yang terdiri dari 58 pasien dari kelompok 31kasus dan 58 pasien dari kelompok kontrol. Untuk hasil diagnosispasien dari kelompok kasus, terdapat 10 17,2% pasien denganCIN I cervical intraepithelial neoplasia, 6 10,3% pasien denganCIN II, 8 13,8% pasien dengan kanker serviks stadium I-B, 915,5% pasien dengan kanker serviks stadium II-A, 9 15,5%pasien dengan kanker serviks stadium II-B dan 16 27,6% pasienkanker serviks stadium hasil biopsi pasien dari kelompok kasus, terdapat 1017,2% pasien dengan CIN I, 6 10,3% pasien dengan CIN II, 2543,1% pasien dengan non keratinizing epidermoid carcinoma, 3 5,2%pasien dengan keratinizing epidermoid carcinoma, 8 13,8% pasiendengan adenocarcinoma, 4 6,9% pasien dengan adenosquamouscarcinoma, dan 2 3,4% pasien dengan small cell 11 variabel faktor risiko terjadinya kanker serviks yangditeliti dalam penelitian ini. Faktor-faktor tersebut adalah umur,menarche, menopause, usia pertama kali menikah, paritas, statusmerokok suami, kontrasepsi hormonal, jenis kontrasepsi hormonal,lama kontrasepsi hormonal, kontrasepsi IUD dan lama 1 menunjukkan risiko terjadinya kanker serviks terhadapkarakteristik demografi dan reproduksi pasien, yaitu umur, menarche,menopause, usia pertama kali menikah, paritas dan status merokoksuami. Hasilnya menunjukkan bahwa paritas sama atau lebih dari 5anak berhubungan signifikan dengan risiko terjadinya kanker serviksp=0,042 OR=2,59 95%CI=1,02-6,61. 32Tabel 1. Karakteristik Demografi dan Reproduksi Pasien TerhadapRisiko Terjadinya Kanker ServiksTabel 2 menu njukkan hasil analisis multivar iat terhadapkarakteristik demografi dan reproduksi pasien. Hasilnya menunjukkanbahwa secara bersama-sama perempuan dengan paritas tinggi yangsudah menopause berhubungan signifikan dengan risiko terjadinyakanker serviks. 33Tabel 2. Analisis Multivariat Karakteristik Demograf i dan ReproduksiPasien Terhadap Risiko Terjadinya Kanker ServiksTabel 3 menunjukkan risiko terjadinya kanker serviks terhadapkarakteristik penggunaan kontrasepsi pasien, yaitu kontrasepsihormonal, jenis kontrasepsi hormonal, lama kontrasepsi hormonal,kontrasepsi IUD dan lama kontrasepsi IUD. Hasilnya menunjukkanbahwa jika pernah menggunakan kontrasepsi hormonal p=0,007OR=2,93 95%CI=1,33-6,48, kontrasepsi hormonal jenis estrogen danprogestin p=0,001 OR=4,20 95%CI=1,81-9,80 serta lama 34penggunaan kontrasepsi hormonal lebih dari 5 tahun p=0,008OR=3,23 95%CI=1,35-7,69 berhubungan signifikan denganterjadinya kanker 3. Karakteristik Penggunaan Kontrasepsi Pasien TerhadapRisiko Terjadinya Kanker ServiksTabel 4 menunjukkan hasil analisis multivariat untuk faktorparitas, pengg unaan, jenis dan lama kontrasepsi hormonal terhadaprisiko terjadinya kanker serviks. Terlihat bahwa paritas lebih dari 5 35anak p=0,032 OR=3,04 95%CI=1,10-8,40 serta penggunaankontrasepsi hormonal jenis estrogen dan progestin p=0,005OR=7,14 95% CI= 1,81-28,57 yang berhubungan signifikandengan terjadinya kanker 4. Analisis Multivariat Paritas, Penggunaan, Jenis dan LamaKontrasepsi Hormonal Terhadap Risiko Terjadinya KankerServiksPembahasanJumlah pasien yang menjadi sampel dalam penelitian ini sebanyak116 orang, yang terdiri dari 58 pasien dari kelompok kasus dan 58orang dari kelompok kontrol. Dari pasien yang termasuk dalamkelompok kasus, sebanyak 27,6% merupakan pasien kanker serviks 36stadium III. Pada stadium ini, kanker serviks sudah menjalarhingg a mencap ai din ding pan ggu l Janicek d an Averette,2001;Abuet al.,2004. Kelompok ini adalah yang tertinggi jikadiba ndingkan dengan lainn ya. Hal ini sesuai dengan datamengenai kondisi kanker serviks di Indonesia, dimana sebagianbesar pasien kanker serviks yang datang berobat ke rumah sakitsudah berada pada stadium lanjut Tjindarbumi dan Mangun-kusumo, 2002;Suwiyoga, 2006. Dari pasien yang termasuk dalamkelompok kas us, sebanyak 43,1% pasien menunjukkan hasilpemeriksaan histopatologi untuk kanker serviks, yaitu non kerati-nizing epidermoid carcinoma. Kelompok ini adalah yang tertinggijika dibandingkan dengan lainnya. Hal ini serupa dengan hasilpemeriksaan histopatologi terhadap kanker serviks di berbagaibelahan dunia lain, dimana squamous cell carcinoma adalah jenisyang paling sering ditemukan Casciato, 2004.Terdapat 11 variabel faktor risiko terjadinya kanker serviks yangditeliti dalam penelitian ini. Faktor-faktor tersebut adalah umur,menarche, menopause, usia pertama kali menikah, paritas, statusmerokok suami, kontrasepsi hormonal, jenis kontrasepsi hormonal,lama kontrasepsi hormonal, kontrasepsi IUD dan lama kontrasepsiIUD. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa paritas lebih dari5 anak p=0,041 OR=2,97 95%CI=1,05-8,47 serta penggunaankontrasepsi hormonal jenis estrogen dan progestin p=0,001 OR=4,2995%CI=1,78-10,31 yang berhubungan signifikan dengan terjadinyakanker ini serupa dengan penelitian pooled-analysis olehCastellsaguéet al.2006 untuk International Agency for Research onCancer Multicenter Cervical Cancer Study Group, yang menemukanbahwa kofaktor yang berhubungan signifikan secara statistik dengankanker serviks adalah penggunaan kontrasepsi hormonal jangkapanjang dan paritas tinggi. Sementara itu penelitian oleh Thomas etal.2001 di Thailand juga menemukan bahwa risiko kanker serviks 37meningkat dengan paritas dan penggunaan kontrasepsi hormonalnamun bukan yang jenis i njeksi prog es tin . Pen elit ian in imenemukan bahwa faktor yang menjadi predisposisi infeksi HPV-16 dan HPV-18 yang onkogenik adalah estrogen atau progestinbersama dengan estr faktor risiko paritas tinggi, penelitian oleh Muñozetal.2002 untuk International Agency for Research on Cancer, Multi-centric Cervical Cancer Study Group menunjukkan bahwa paritastinggi meningkatkan risiko karsinoma sel skuamous serviks padaperempuan dengan HPV positif. Penelitian ini menemukanhubungan langsung antara jumlah kehamilan dengan risikokarsinoma sel skuamous, OR untuk kehamilan 7 kali atau lebihadalah 3,8 95% CI=2,7-5,5 jika dibandingkan dengan perempuanyang tidak pernah melahirkan dan 2,3 9 5% CI=1,6-3,2 jikadibandingkan dengan perempuan dengan 1-2 kali itu penelitian oleh De Boer et al.2006 di Indonesiajuga menunjukkan bahwa paritas tinggi adalah fakto r risikosignifikan untuk kanker faktor risiko penggunaan kontrasepsihormonal, penelitianoleh Moreno et al.2002 untuk International Agency for Research onCancer, Multicentric Cervical Cancer Study Group, menunjukkan bahwapeng gunaan kon trasepsi hormonal menjadi kofaktor yangmeningkatkan risiko kanker serviks sebanyak 4 kali lipat padaperempuan dengan DNA HPV yang positif pada serviksnya. Oddsratio penggunaan kontrasepsi hormonal adalah 2,82 95% CI=1,46-5,42 untuk 5-9 tahun dan 4,03 95% CI=2,09-8,02 untuk 10 tahunkeatas. Sementara itu penelitian oleh International Collaboration ofEpidemiological Studies of Cervical Cancer 2007 pada penggunakontrasepsi hormonal menemukan peningkatan risiko kanker serviksyang invasif dengan peningkatandurasi penggunaannya risiko relatifuntuk 5 tahun ataulebih jika dibandingkan dengan bukan penggunaadalah 1,90 95% CI=1,69-2,13. Sementara itu penelitian oleh 38Vanankovit da n Tane e pan ich s k ul 2008 di T h ail and jug amenunjukkan bahwa penggunaan kontrasepsi hormonal jangkapanjang dapat menjadi kofaktor yang meningkatkan risiko kankerser viks. Odds ratio untuk penggunaan kontrasepsi h ormonalselama lebih dari 3 tahun adalah 2,57 95%CI=1,22-5,49 yangsignifikan secara khusus harus diberikan pada hasil penelitian inikarenahanya dilakukan satu kali pengukuran paritas dan penggunaankontrasepsi, sehingga tidak bisa memperhitungkan kemungkinanadanya paritas lagi, p enghentian atau memulai penggunaankontrasepsi hormonal setelah penelitian berlangsung. Perubahanhormonal yang dipicu oleh kehamilan peningkatan kadar estrogendan progesterin dan penggunaan kontrasepsi hormonal dapatmemodulasi respon imun terhadap HPV dan mempengaruhi risikopersistensi atau progresivitas infeksi HPV. Mekanisme hormonaldiduga menjadi penjelasan biologis untuk hubungan antara paritasdengan lesi prakanker dan kanker serviks pada perempuan yangterinfeksi HPV. Karena adanya efek serupa dengan penggunaankontrasepsi hormonal, pengaruh hormonal ini dapat dianggapmenjadi kandidat kofaktor HPV yang paling kuat Morenoet al., 2002;Muñozet al., 2002.Tidak banyak hasil penelitian yang mendukung mekanismedimana pengaruh hormonal dapat memodulasi risiko progresivitasmenjadi lesi prakanker atau kanker ser viks pada perempuanterinfeksi HPV. Mekanisme terkait hormonal dapat mempengaruhiprogresivitas dari lesi serviks praganas menjadi ganas denganmeningkatkan integrasi DNA HPV kedalam genom host, yangselanjutnya menyebabkan deregulasi ekspresi protein E6 dan penelitian eksperimantal menunjukkan bahwa estradiol dapatmenstimulasi transkripsi E6 dan E7 dari HPV-16. Protein E6 dan E7berkaitan dengan potensi onkogenik dari HPV-16. Efek estrogen padatranskripsi gen viral ini merupakan relevansi biologis dalam 39perubahan sel serviks yang terinfeksi HPV-16 menuju ke arahkeganasan. Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwaterdapat mekanisme sinergis antara paparan estrogen jangkapanjang dengan onkogen HPV-16 yang selanjutnya memodulasiproses karsinogenesis pada serviks. Diduga kontrasepsi hormonaljuga dapat memfasilitasi reaktivasi atau persistensi infeksi HPV melaluimekanisme imunologis Morenoet al., 2002.Hasil penelitian lain juga mendukung adanya hubungan antarafaktor hormonal dengan kanker serviks. Brabin 2002 menyatakanbahwa dalam kondisi infeksi HPV yang persisten, hormon seks steroidestrogen dan/atau progsteron berhubungan dengan progresivitasmenjadi kanker serviks. Moodley et al.2003 menyatakan bahwakontrasepsi steroid memiliki mekanisme yang membantu HPVmengembangkan efek tumorigenik pada jaringan serviks. Steroiddiduga akan berikatan dengan sekuens DNA yang spesifik dalamtranscriptional regul at ory region dari DNA HPV yang dapatmeningkatkan atau menekan transkripsi dari berbagai gen. Upstreamregulatory region URR dari genom viral HPV-16 memediasi kontroltranskripsi genom HPV dan diduga juga mengandung elemen pemicuyang dapat diaktivasi oleh hormon steroid. Telah diketahui pula bahwahormon steroid dapat berikatan dengan elemen glucocorticoid-response yang spesifik dalam DNA oleh Brake dan Lambert 2005 menemukan bahwatumor yang muncul pada tikus transgenik HPV-16 yang dipapardengan estrogen selama9 bulan menunjukkan peningkatan ukuranjika dibandingkan dengan paparan estrogen selama 6 bulan. Hasilpenelitian ini menunjukkan bahwa estrogen berperan penting tidakhanyapada pembentukan kanker serviks namun juga persistensi danperkembangan lebih lanjut dari kanker serviks ini pada hewan penelitian oleh Kim et al.2000 juga menunjukkan hasilyang serupa. Dalam penelitian ini, sel kanker serviks HeLa, CaSkiand C33A dikultur dengan penambahan 17â-estradiol untuk diamati 40efek pengaturan pertumbuhannya serta ekspresi gen E6 dan E7dari HPV. Stimulasi pertumbuhan sel kanker ser viks yang HPVpositif ini dengan estrogen berhubungan dengan peningkatanekspresi E6 dan E7 dari HPV. Semua data penelitian tersebutmenunjukkan bawa estrogen menjadi faktor risiko dalam proseskarsinogenesis pada serviks yang diperantarai oleh lebih dari 5 kali, penggunaan kontrasepsi hormonal jeniskombinasi estrogen dan progestin serta menopause berhubungandengan peningkatan risiko terjadinya kanker serviks. Hasil penelitianini menunjukkan bahwa aspek hormonal, yaitu estrogen berperandalam proses karsinogenesis kanker serviks. Disarankan agar upayapromotif dan preventif kanker serviks difokuskan pada kelompokberisiko tinggi, yaitu perempuan yang telah menopause, paritas tinggidan pengguna kontrasepsi hormonal jenis kombinasi estrogen danprogesteron, serta dilakukan sejalan dengan program keluargaberencana. Upaya yang dilakukan terutama terkait pelaksanaan PapSmear sebagai bagian dari upaya preventif kanker serviks, yang harusdidukung dengan upaya PustakaAbu et al., 2004. The Current Management of Cervical Gynaecol Lond, 6, L., 2002. Interactions of the Female Hormonal Environment,Susceptibility to Viral Infections, and Disease Progression. AIDSPatient Care STDS,16, T. and Lambert Estrogen Contributes to the Onset,Persistence, and Malignant Progression of Cervical Cancer in AHuman Papillomavirus-transgenic Mouse Model. Publ Natl AcadSci., 102, 2490-2495. 41Burd 2003. Human Papillomavirus and Cervical Cancer. ClinMicrobiol Rev., 16, 2004 Manual of Clinical Oncology 5 th ed. Phila-delphia Lippincott Williams & X. and Muñoz N., 2003. Chapter 3 Cofactors in Hu-man Papillomavirus Carcinogenesis—Role of Parity, Oral Con-traceptives, and Tobacco Smoking. J Natl Cancer Inst Mono-graphs, 31, X., et al., for International Agency for Research onCancer Multicenter Cervical Cancer Study Group. 2006. World-wide Human Papillomavirus Etiology of Cervical Adenocarci-noma and Its Cofactors Implications for Screening and Pre-vention. J Natl Cancer Inst., 98, and Hunter 2005. Molecular Epidemiology of Cancer J Clin., 55, Boer et al., 2006. Human Papillomavirus Type 18 and OtherRisk Factors for Cervical Cancer in Jakarta, JGynecol Cancer,16, Collaboration of Epidemiological Studies of CervicalCancer, Appleby P., et al., 2007. Cervical Cancer and HormonalContraceptives Collaborative Reanalysis of Individual Data for16,573 Women with Cervical Cancer and 35,509 Women WithoutCervical Cancer From 24 Epidemiological Studies. Lancet, 370, and Averette 2001. Cervical Cancer Prevention,Diagnosis, and Therapeutics. CA Cancer J Clin., 51, W., et al., 2004. Strategies Against Human PapillomavirusInfection and Cervical Cancer. J Microbiol., 42, et al.,2000. Regulation of Cell Growth and HPV Genes byExogenous Estrogen in Cer J GynecolCancer,10, 157-164. 42Ministry of Health Republic of Indonesia. 2007 Indonesia HealthProfile 2005. Jakarta Ministry of Health Republic of M., et al., 2003. The Role of Steroid Contraceptive Hor-mones in the Pathogenesis of Invasive Cer vical Cancer AReview. Intl J Gynecol Cancer, 13, V., et al.,for International Agency for Research on Can-cer, Multicentric Cervical Cancer Study Group, 2002. Effect ofOral Contraceptives on Risk of Cer vical Cancer in Womenwith Human Papillomavirus Infection The IARC MulticentricCase-Control Study. Lancet, 359, S., et al., 2004. The Role of Human Papilloma Virus inthe Molecular Biology of Cervical Carcinogenesis. Kobe J MedSci., 50, N., et al.,forInternational Agency for Research on Cancer,Multicentric Cervical Cancer Study Group, 2002. Role of Par-ity and Human Papillomavirus in Cervical Cancer The IARCMulticentric Case-Control Study. Lancet, 359, M. and Kjaer 2003. Chapter 2 Natural History ofAnogenital Human Papillomavirus Infection and Cancer Inst Monographs, 31, and Castle P., 2003. Epidemiologic Studies of aNecessary Causal Risk Factor Human Papillomavirus Infec-tion and Cervical Neoplasia. JNatl Cancer Inst Monographs,95, et al., 2004. A Case-Control Study of Risk Factors forInvasive Cervical Cancer among Women Exposed toOncogenic Types of Human Papillomavirus. Cancer EpidemiolBiomarkers Prev., 13, 2006. Tes Human Papillomavirus Sebagai SkriningAlternatif Kanker Serviks. Cermin Dunia Kedokteran, 151, 29-32. 43Thomas et al., 2001. Human Papillomaviruses and CervicalCancer in Bangkok. I. Risk Factors for Invasive Cervical Carci-nomas with Human Papillomavirus Types 16 and 18 DN J Epidemiol., 153, D., and Mangunkusumo R., 2002. Cancer in Indonesia,Present and Future. Japan J Clin Oncol., 32, N., and Taneepanichskul S., 2008. Effect of OralContraceptives on Risk of Cervical Cancer. J Med Assoc Thai.,91, Health Organization 2010 World Human Papillomavirusand Related Cancer, Summary Report Update 2010. GenevaWorld Health Organization. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this cancers of the uterine cervix are squamous cell carcinomas. Although the incidence of such carcinomas of the uterine cervix has declined over time, that of cervical adenocarcinoma has risen in recent years. The extent to which human papillomavirus HPV infection and cofactors may explain this differential trend is unclear. We pooled data from eight case-control studies of cervical cancer that were conducted on three continents. A total of 167 case patients with invasive cervical adenocarcinoma 112 with adenocarcinoma and 55 with adenosquamous carcinoma and 1881 hospital-based control subjects were included. HPV DNA was analyzed in cervical specimens with the GP5+/6+ general primer system followed by type-specific hybridization for 33 HPV genotypes. Blood samples were analyzed for chlamydial and herpes simplex virus 2 HSV-2 serology. Multivariable unconditional logistic regression modeling was used to calculate odds ratios ORs with 95% confidence intervals CIs. All tests of statistical significance were two-sided. The adjusted overall odds ratio for cervical adenocarcinoma in HPV-positive women compared with HPV-negative women was 95% CI = to HPV 16 and HPV 18 were the two most commonly detected HPV types in case patients and control subjects. These two types were present in 82% of the patients. Cofactors that showed clear statistically significant positive associations with cervical adenocarcinoma overall and among HPV-positive women included never schooling, poor hygiene, sexual behavior-related variables, long-term use of hormonal contraception, high parity, and HSV-2 seropositivity. Parity had a weaker association with adenocarcinoma and only among HPV-positive women. Use of an intrauterine device IUD had a statistically significant inverse association with risk of adenocarcinoma for ever use of an IUD compared with never use, OR = .41 [95% CI = to Smoking and chlamydial seropositivity were not associated with disease. HPV appears to be the key risk factor for cervical adenocarcinoma. HPV testing in primary screening using current mixtures of HPV types and HPV vaccination against main HPV types should reduce the incidence of this cancer B ThomasR M RayA KoetsawangSuporn KoetsawangPersonal interviews, tests for antibodies to herpes simplex virus type 2, Treponema pallidum, and hepatitis B, tests for hepatitis B surface antigen HBsAg, and polymerase chain reaction-based assays for human papillomavirus HPV DNA in cervical scrapings were obtained from 190 women with squamous cell and 42 women with adenomatous cervical carcinoma and from 291 hospitalized controls diagnosed in Bangkok, Thailand, between September 1991 and September 1993. Risk was strongly associated with oncogenic HPV types, with types 16 and 18 predominating in squamous and adenomatous lesions, respectively. The 126 cases with HPV-16 and the 42 cases with HPV-18 were compared with 250 controls with no evidence of any HPV. The risk of both viral tumor types increased with decreasing age at first intercourse in this predominantly monogamous population, which may be explained by more visits to prostitutes by the husbands of cases with early than late age at first intercourse. HPV-16 tumors were weakly associated with HBsAg carrier state and smoking. The risk of tumors of both viral types increased with parity and use of oral contraceptives but not with injectable progestogens. Factors that may predispose to persistent, oncogenic HPV-16 or -18 infection may include estrogens or progestins in the presence of estrogens, immunosuppression, and smoking, but other factors related to low socioeconomic status are also D. ShermanK C CalmanS. EckhardtB. SalvadoriThe continuing success of the VICC's Manual of Clinical Oncology and the continuing refinement of our educational objectives in cancer designed for graduating medical students and young practitioners, cou pled with significant additional knowledge in the cancer field have allIed to the decision to publish a Fourth Edition. The collaboration of the World Health Organization WHO and the Pan-American Health Orga nization PAHO in our international and regional conferences in cancer education and the development of courses using the Manual as a basic resource have aided further definition of the VICC's role in cancer educa tion throughout the world. Our Revision Committee believes that we have incorporated in this small volume most of the knowledge about cancer which is essential for all students and practioners to know and that we have done so in a clear and concise manner. A large proportion of the material presented herein is devoted to basic aspects, yet presented so that the clinical implications are clear. Although we do not feel that general physicians need to know minor details about all cancers, we feel it is particularly important to be somewhat thorough in our discussions of the more common cancers. We have omitted discussion of the rare cancers, and limited ourselves to the major concepts and princi ples of the less common B. ThomasPersonal interviews tests for antibodies to herpes simplex virus type 2 Treponema pallidum and hepatitis B a test for hepatitis B surface antigen HBsAg and polymerase chain reaction-based assays for human papillomavirus HPV DNA in cervical scrapings were obtained from 190 women with squamous cell and 42 women with adenomatous cervical carcinoma and from 291 hospitalized controls diagnosed in Bangkok Thailand between September 1991 and September 1993. Risk was strongly associated with oncogenic HPV types with types 16 and 18 predominating in squamous and adenomatous lesions respectively. The 126 cases with HPV-16 and the 42 cases with HPV-18 were compared with 250 controls with no evidence of any HPV. The risk of both viral tumor types increased with decreasing age at first intercourse in this predominantly monogamous population which may be explained by more visits to prostitutes by the husbands of cases with early than late age at first intercourse. HPV-16 tumors were weakly associated with HBsAg carrier state and smoking. The risk of tumors of both viral type increased with parity and use of oral contraceptives but not with injectable progestogens. Factors that may predispose to persistent oncogenic HPV-16 or -18 infection may include estrogens or progestins in the presence of estrogens immunosuppression and smoking but other factors related to low socioeconomic status are also involved. authorsBackground Combined oral contraceptives are classified by the International Agency for Research on Cancer as a cause of cervical cancer. As the incidence of cervical cancer increases with age, the public-health implications of this association depend largely on the persistence of effects long after use of oral contraceptives has ceased. Information from 24 studies worldwide is pooled here to investigate the association between cervical carcinoma and pattern of oral contraceptive use. Methods Individual data for 16 573 women with cervical cancer and 35 509 without cervical cancer were reanalysed centrally. Relative risks of cervical cancer were estimated by conditional logistic regression, stratifying by study, age, number of sexual partners, age at first intercourse, parity, smoking, and screening. Findings Among current users of oral contraceptives the risk of invasive cervical cancer increased with increasing duration of use relative risk for 5 or more years' use versus never use, 1-90 [95% Cl 1-69-2-13]. The risk declined after use ceased, and by 10 or more years had returned to that of never users. A similar pattern of risk was seen both for invasive and in-situ cancer, and in women who tested positive for high-risk human papillornavirus. Relative risk did not vary substantially between women with different characteristics. Interpretation The relative risk of cervical cancer is increased in current users of oral contraceptives and declines after use ceases. 10 years' use of oral contraceptives from around age 20 to 30 years is estimated to increase the cumulative incidence of invasive cervical cancer by age 50 from to per 1000 in less developed countries and from to per 1000 in more developed parity has long been suspected of being associated with an increased risk of cervical cancer, but previous analyses of this association have not taken the strong effect of human papillomavirus HPV into account. To assess the role of reproductive factors in the progression from HPV infection to cancer, we did a pooled analysis including only HPV-positive women. We pooled data from eight case-control studies on invasive cervical carcinoma ICC and two on in-situ carcinoma ISC from four continents. 1465 patients with squamous-cell ICCs, 211 with ISCs, 124 with adenocarcinomas or adenosquamous ICCs, and 255 control women, all positive for HPV DNA by PCR-based assays, were analysed. We calculated pooled odds ratios by means of unconditional multiple logistic regression models, and adjusted them for sexual and non-sexual confounding factors. The 95% CI were estimated by treating the odds ratio as floating absolute risk. We found a direct association between the number of full-term pregnancies and squamous-cell cancer risk the odds ratio for seven full-term pregnancies or more was 95% CI compared with nulliparous women, and compared with women who had one or two full-term pregnancies. There was no significant association between risk of adenocarcinoma or adenosquamous carcinoma and number of full-term pregnancies. High parity increases the risk of squamous-cell carcinoma of the cervix among HPV-positive women. A general decline in parity might therefore partly explain the reduction in cervical cancer recently seen in most CJ, Um SJ, Kim TY, Kim EJ, Park TC, Kim SJ, Namkoong SE, Park JS. Regulation of cell growth and HPV genes by exogenous estrogen in cervical cancer cells. Human papillomavirus HPV infection is known as the major cause of the development of cervical cancer. The E6 and E7 proteins of oncogenic HPV can play critical roles in immortalization and malignant transformation of cervical epithelial cells. From the previous epidemiologic data, it has been determined that long-term use of oral contraceptives may be a risk factor for cervical cancer. Investigation of the estrogenic and antiestrogenic effects on the proliferation of cervical cancer cells and the gene expression of HPV would help to explain the role of estrogen in the HPV-associated pathogenesis of cervical cancer. In this study, cervical cancer cells HeLa, CaSki, and C33A were cultured in vitro in the presence of 17β-estradiol or tamoxifen to observe their regulatory growth effect and HPV E6/E7 gene expression. The estrogenic effect on the promoter activity of HPV URR was further confirmed by transient transfection assay, which was conducted in C33A cells using the HPV-18 URR-CAT reporter plasmid. The supplemental effect of estrogen receptors on URR promoter activity was also evaluated. The proliferation of HeLa and CaSki cells was stimulated by estradiol at physiologic concentration levels ≤1 × 10–6 M. At a low concentration × 10–6 M, tamoxifen also stimulated the proliferation of HeLa and CaSki cells. In contrast to HPV-positive cervical cells, the proliferation of C33A was not influenced by exogenous estradiol or tamoxifen, indicating that HPV might play a role in the hormonal stimulation of cell growth. Interestingly, the proliferation of HeLa was markedly suppressed at high concentrations of estradiol and tamoxifen 5 and 10 × 10–6 M. The levels of HPV-18 E6 and E7 mRNA were significantly increased by estradiol at a concentration of × 10–6 M. Transient transfection experiments using the HPV URR-CAT reporter plasmid in C33A cells indicated that the expression of HPV E6/E7 genes was increased by the treatment of estradiol and tamoxifen. Co-transfection of estrogen receptors ER and URR-CAT leads to a fourfold increase in CAT activity by estradiol or tamoxifen at physiologic concentrations. When estradiol or tamoxifen was administered at high concentrations 5 × 10–6 M, a DNA ladder, typically indicative of apoptosis, was observed in HeLa cells. In conclusion, estradiol stimulated the growth of HPV-positive cervical cancer cells, as did tamoxifen at low concentrations × 10–6 M. The growth stimulation of HPV-positive cervical cancer cells by estrogen appeared to be related to the increased expression of HPV E6/E7. Growth suppression observed at high concentrations of estradiol and tamoxifen in HeLa cells might be a result of apoptosis. Taken together, these data suggested that exogenous estradiol might be a risk factor in HPV-mediated cervical carcinogenesis. Mike JanicekHervy E. AveretteCervical cancer is a leading cause of cancer deaths in women worldwide. Because of its association with human papilloma virus infection, as well as the ability to screen for premalignant stages of the disease, it is now largely a preventable disease. This article describes the molecular basis for cervical cancer, and presents a clinical overview of current treatment approaches and technological advances, emphasizing the unique aspects of this viral disease as it relates to the immune system and vaccination or other immunotherapeutic TjindarbumiRukmini MangunkusumoCancer control has been in effect in Indonesia since the early 1920s. It was the Dutch Colonial Government who started with the Institution for Cancer Control, which was closed by the Japanese Occupation Administration between 1942 and 1945. After the independence of the Republic of Indonesia, a Cancer Control Foundation was established in 1962. At present, clinical and non-clinical departments in government teaching hospitals there are 13 teaching hospitals usually handle all cancer problems. In 1993, Dharmais Cancer Center in Jakarta was established and has become the top referral cancer hospital for Indonesia. Until now, there have been no nationwide accurate data on cancer registration, owing to a lack of funds and manpower. Cancer data collection is usually provided as a relative frequency study from several departments of the teaching hospitals. It is currently estimated that there will be at least 170-190 new cancer cases annually for each 100 000 people. The most frequent and primary cancers are cervix, breast, lymph node, skin and nasopharynx. Since Indonesia is now in a transition phase and has many problems concerning the economy and health care, we suggested a well-planned cancer control program. It includes the primary, secondary and tertiary prevention of cancer in cities, where inhabitants can afford to subsidize a certain proportion of the budgets for the implementation of this program.
Cervical cancer is caused by HPV infection type 16 and 18. The risk factors and sociodemographic of HPV transmission is age, parity, number of sexual partners, oral contraceptives, sexual intercourse at young age and education level. The aims is to describe and analyze risk factors and sociodemographic of cervical cancer. This research is a systematic review. There are nine studies that included. The results are the mean age around years old, the number of sexual partners between 0 - ≥ 2, with or without of oral contraceptives, have sexual intercourse at 16-24 years old, have children with 0-8 number of parity, and have an education level between lower - higher education level. This profile of risk factors and sociodemographic can be different between each country depends on culture, government systems and economic status from each country. The conclusion is women aged ≥ 30 years old mean age around 31,5-42,8 years old who used or doesn’t used oral contraceptive and have sexual intercourse at young age around 16-20 years old with the number of sexual partner is ≥ 1, also have high number of parity or have ≥ 2 kids and have low education level. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Helen, et al., Profil Faktor Risiko Dan Sosiodemografis Kanker Serviks Sebuah Kajian Sistematis, KELUWIH Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, 109-119, June 2022. e-ISSN 2715-6419 109 Profil Faktor Risiko Dan Sosiodemografis Kanker Serviks Sebuah Kajian Sistematis Helen Cyntia Mago1*, Tjie Kok2, Winnie Nirmala Santosa1 1 Fakultas Kedokteran, Universitas Surabaya, Raya Kalirungkut, Surabaya 60293 2 Fakutas Teknobiologi, Universitas Surabaya, Raya Kalirungkut, Surabaya 60293 *corresponding author helenmago515 Abstract—Cervical cancer is caused by HPV infection type 16 and 18. The risk factors and sociodemographic of HPV transmissio n is age, parity, number of sexual partners, oral contraceptives, sexual intercourse at young age and education level. The aims is to describe and analyze risk factors and sociodemographic of cervical cancer. This research is a systematic review. There are nine studies that included. The results are the mean age around years old, the number of sexual partners between 0 - ≥ 2, with or without of oral contraceptives, have sexual intercourse at 16-24 years old, have children with 0-8 number of parity, and have an education level between lower - higher education level. This profile of risk factors and sociodemographic can be different between each country depends on culture, government systems and economic status from each country. The conclusion is women aged ≥ 30 years old mean age around 31,5-42,8 years old who used or doesn’t used oral contraceptive and have sexual intercourse at young age around 16-20 years old with the number of sexual partner is ≥ 1, also have high number of parity or have ≥ 2 kids and have low education level. Keywords cervical cancer, sociodemographic, risk factors Abstrak—Kanker serviks disebabkan oleh infeksi dari HPV tipe 16 dan tipe 18. Faktor risiko dan sosiodemografis penularan infeksi HPV adalah usia, paritas, jumlah pasangan seksual, penggunaan kontrasepsi oral, melakukan hubungan seksual pada usia muda dan pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan dan menganalisis faktor risiko dan sosiodemografis kanker serviks. Penelitian ini merupakan sebuah kajian sistematis. Terdapat sembilan literatur yang dikaji. Hasil penelitian adalah rata-rata usia adalah 31,5-42,8 tahun, jumlah pasangan seksual bervariasi antara 0 - ≥ 2 pasang, menggunakan atau tanpa kontrasepsi oral, melakukan hubungan seksual pada usia muda yaitu kisaran 16-24 tahun, memiliki anak dengan jumlah yang bervariasi yaitu antara 0-8 anak, dan memiliki jenjang pendidikan antara pendidikan rendah-pendidikan tinggi. Profil faktor risiko dan sosiodemografis ini dapat berbeda antar tiap negara karena dipengaruhi oleh budaya, sistem pemerintahan dan status ekonomi dari setiap negara. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa profil faktor risiko dan sosiodemografis kanker serviks adalah wanita berusia ≥ 30 tahun rata-rata usia 31,5-42,8 tahun yang menggunakan atau tanpa menggunakan kontrasepsi oral dan pernah melakukan hubungan seksual di usia sekitar 16-20 tahun dengan jumlah pasangan seksual yaitu ≥ 1, serta memiliki anak dengan jumlah yang banyak atau ≥ 2 dan tingkat pendidikan rendah. Kata Kunci kanker serviks, sosiodemografis, faktor risiko PENDAHULUAN Kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker terbanyak keempat yang sering terjadi pada perempuan di seluruh dunia Kelly et al., 2018. Data dari Global Cancer Statistic menunjukkan bahwa pada 2018 prevalensi kasus kanker serviks mencapai 569,847 kasus dan mortalitas mencapai 311,365 kematian di seluruh dunia Globocan, 2018. Berdasarkan data Globocan tersebut, Indonesia menempati posisi ke-8 sebagai negara dengan jumlah kasus terbanyak kanker serviks di Asia Tenggara. Jumlah kasus kanker serviks di Indonesia telah mencapai atau 17,2% kasus dengan angka kematian sebesar per tahun. Jawa Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mengalami peningkatan jumlah kasus kanker serviks. Pada tahun 2019, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur menyatakan bahwa angka penderita kanker serviks di Jawa Timur telah mencapai kasus Dinkes Jatim, 2019. Penyebab utama kanker serviks adalah adanya infeksi dari Human Papillomavirus HPV. Infeksi HPV merupakan salah satu infeksi menular seksual yang paling sering di seluruh dunia yang diperkirakan telah menginfeksi sebanyak 290 juta wanita di seluruh dunia Santhanes et al., 2017. Beberapa faktor risiko infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks antara lain, hubungan seksual pertama kali saat usia muda, memiliki banyak pasangan seksual, merokok, menggunakan kontrasepsi oral, dan memiliki penyakit tertentu seperti herpes simpleks, Human Immunodeficiency Virus HIV, atau koinfeksi dengan infeksi genital lainnya Helen, et al., Profil Faktor Risiko Dan Sosiodemografis Kanker Serviks Sebuah Kajian Sistematis, KELUWIH Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, 109-119, June 2022. e-ISSN 2715-6419 110 Fowler et al., 2022. Faktor risiko lain yang dapat menyebabkan kanker serviks adalah usia, jumlah paritas atau anak lahir hidup dan penggunaan pembersih vagina Fitrisia, et al., 2019. Selain itu, keterlambatan melakukan screening dapat menjadi faktor risiko terjadinya kanker serviks. Keterlambatan ini dipengaruhi oleh faktor sosiodemografis seperti, pendidikan, pendapatan, ras atau etnis, akses ke fasilitas kesehatan, dan kebiasaan sehari-hari seperti aktivitas fisik dan pola makan Phaswana-Mafuya et al., 2018. Faktor sosiodemografis lain yang dapat memengaruhi seseorang dalam melakukan screening adalah pekerjaan, budaya, psikologis, dan dukungan suami Mesalina, et al., 2019. Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana profil faktor risiko dan sosiodemografis kanker serviks?” Tujuan penelitian ini ada dua yaitu untuk menguraikan dan menganalisis berbagai faktor risiko dan sosiodemografis kanker serviks dan untuk menguraikan persebaran data penelitian mengenai faktor risiko dan sosiodemografis kanker serviks di seluruh dunia. METODE Penelitian ini merupakan suatu kajian sistematis yang dibuat berdasarkan pada statement Preferred Reporting Items For Systematic Review and Meta-Analyses PRISMA. Database yang digunakan pada penelitian ini adalah PubMed dengan rentang waktu 5 tahun yaitu dari 01 Januari 2015 hingga 31 Desember 2019. Strategi pencarian data atau kata kunci yang digunakan adalah Cervical Cancer AND Sociodemography AND Risk Factor. Literatur yang diikutsertakan atau yang dipilih dalam kajian sistematik ini memiliki kriteria 1 dipublikasikan dalam rentang waktu 5 tahun terakhir; 2 dipublikasikan dalam Bahasa Inggris; 3 literatur yang terdapat pembahasan terkait faktor risiko dan sosiodemografis kanker serviks; 4 partisipan yang digunakan setidaknya memenuhi salah satu dari kriteria penderita kanker serviks, wanita usia reproduktif dengan hasil pemeriksaan biopsi atau kolposkopi atau sitologi yang abnormal, wanita usia reproduktif dengan infeksi HPV; 5 study design yang digunakan adalah observational study. Proses pengumpulan data penelitian ini menggunakan satu database dalam pencarian literatur. Judul dan abstrak dari setiap literatur diseleksi secara seksama untuk mengetahui apakah telah sesuai dengan topik pembahasan pada penelitian ini. Literatur yang telah sesuai, diakses lebih lanjut untuk mendapatkan data menyeluruh atau artikel lengkap. Artikel lengkap dari setiap literatur diseleksi kembali berdasarkan kriteria literatur yang dipilih. Artikel lengkap yang telah memenuhi kriteria selanjutnya didiskusikan bersama pihak kedua untuk mengonfirmasi kembali hasil pemilihan literatur dan bila telah sesuai maka artikel lengkap tersebut yang akan diekstraksi datanya. Selanjutnya, literatur yang telah dipilih tersebut selanjutnya ditelaah lebih lanjut untuk diekstraksi data berupa nama author, tahun publikasi, negara, partisipan, desain penelitian, jumlah partisipan, rata-rata usia, pasangan seksual, kontrasepsi oral, hubungan seksual pada usia muda, paritas dan pendidikan. Penentuan kualitas literatur yang telah dipilih menggunakan STROBE Statement Checklist. Penilaian dilakukan oleh peneliti sendiri dan bila ada keraguan dalam penilaian kualitas literatur maka peneliti mendiskusikan kembali bersama pihak kedua. HASIL Berdasarkan dari pencarian data dengan menggunakan kata kunci yang telah ditetapkan diperoleh sebanyak 100 literatur. Pada penelitian ini tidak ditemukan adanya duplikasi data karena hanya menggunakan satu database yaitu PubMed. Judul dan abstrak dari 100 literatur tersebut di-skrinning untuk disesuaikan dengan topik penelitian dan ditemukan sebanyak 50 literatur tidak sesuai dengan topik penelitian. Dari 50 literatur yang tersisa peneliti mencoba mengakses data lengkap dan ditemukan sebanyak 17 literatur tidak dapat diakses untuk data lengkap sehingga hanya tersisa 33 literatur. Dari 33 literatur tersebut peneliti mengeksklusi sebanyak 24 literatur yang terdiri atas 14 literatur yang tidak dipublikasikan dalam rentang waktu 5 tahun terakhir, 9 literatur dengan kriteria partisipan Helen, et al., Profil Faktor Risiko Dan Sosiodemografis Kanker Serviks Sebuah Kajian Sistematis, KELUWIH Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, 109-119, June 2022. e-ISSN 2715-6419 111 yang dipilih bukan penderita kanker serviks; wanita usia reproduktif dengan hasil pemeriksaan biopsi atau sitologi yang abnormal; wanita usia reproduktif dengan infeksi HPV dan 1 literatur dengan study design bukan observational study. Sehingga hanya tersisa 9 literatur yang telah memenuhi kriteria dan yang akan dikaji Gambar 1. Pengumpulan literatur berdasarkan pencarian didatabase n=100Penyaringan duplikat literatur n=0Literatur yang akan diskrining n=100Pengumpulan literatur dari sumber lain n=0Literatur dengan judul dan abstrak yang tidak sesuai dengan topik n=50Literatur yang tidak bisa diakses lengkap n=17Literatur yang dapat diakses lengkap n=33Artikel lengkap yang tidak sesuai dengan kreteria inklusi n=241. Dipublikasikan lebih dari 5 tahun terakhir n=142. Partisipan yang digunakan bukan penderita kanker serviks yang masih hidup atau sudah meninggal; wanita usia reproduksi dengan hasil pemeriksaan biopsy atau sitologi yang abnormal; wanita usia reproduktif dengan infeksi HPV n=93. Literatur dengan study design bukan observasional study n=1Literatur yang dikaji n=9IDENTIFIKASISCREENINGELIGIBILITYINCLUDEDGambar 1. Flow diagram pemilihan literatur. Sembilan literatur yang dikaji berasal dari 9 kota atau negara yang berbeda, yaitu dari Arab, Argetina Utara, Brazil Selatan, China Utara, N’Djamena Chad, Rural India Selatan, Sub-Sahara Africa, Swiss, dan Urban Gambia. Dari 9 literatur tersebut diperoleh hasil bahwa karakteristik partisipan yang diperoleh adalah wanita usia reproduktif dengan infeksi HPV dengan hasil pemeriksaan sitologi abnormal atau tanpa pemeriksaan sitologi dan atau merupakan penderita kanker serviks. Hasil ekstraksi data dari partisipan yang digunakan dalam Helen, et al., Profil Faktor Risiko Dan Sosiodemografis Kanker Serviks Sebuah Kajian Sistematis, KELUWIH Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, 109-119, June 2022. e-ISSN 2715-6419 112 9 literatur yang dikaji menunjukkan bahwa rentang usia rata-rata dari partisipan adalah 31,5-42,8 tahun, memiliki jumlah pasangan seksual 0 - ≥ 2, menggunakan atau tidak menggunakan kontrasepsi oral, melakukan hubungan seksual pada usia sekitar 16-24 tahun, memiliki anak dengan jumlah antara 0-8 dan memiliki jenjang pendidikan dari rendah hingga tinggi Lampiran Tabel 1. Penilaian kualitas literatur yang dikaji menggunakan STROBE Statement Checklist, dan diperoleh hasil bahwa 4 literatur yang dikaji memiliki kualitas literatur yang bagus, karena memenuhi + semua kriteria penilaian dari STROBE Statement Checklist, akan tetapi terdapat 5 literatur yang tidak memenuhi satu atau dua kriteria penilaian -, seperti pada penelitian Bah Camara, et al. 2018 tidak menjelaskan tentang bias; sedangkan pada penelitian Jia, et al. 2015, Thulaseedharan, et al. 2015, dan Muwonge, et al. 2016 tidak menjelaskan tentang funding, serta pada penelitian Coser, et al. 2015 tidak menjelaskan tentang limitation dan funding pada penelitiannya Lampiran Tabel 2. BAHASAN Data faktor risiko dan sosiodemografis yang diperoleh dari hasil ekstraksi data menunjukkan hasil bahwa mayoritas karakteristik partisipan yang ditemukan adalah wanita usia reproduktif dengan infeksi HPV. Tipe genotype infeksi HPV yang diderita oleh setiap partisipan sangat bervariasi. Pada penelitian Jia et al. 2015 di China Utara, ditemukan bahwa infeksi HPV pada wanita usia reproduktif yang merupakan pekerja seksual dan yang dapat menyebabkan adanya abnormalitas sitologi ditemukan pada tipe High Risk HPV 61,90%, tetapi menurut Bah Camara, et al. 2018 di Urban Gambia, bahwa tipe infeksi HPV tersering pada wanita bukan hanya tipe 52 High Risk HPV 42,9% melainkan terdapat infeksi dari tipe 61 Low Risk HPV 42,9%. Hasil penelitian Bah Camara, et al. 2018 tersebut sama dengan hasil penelitian Elmi, et al. 2017 di Arab, bahwa setiap wanita yang positif HPV memiliki paling sedikit satu jenis infeksi Low Risk HPV dan High Risk HPV, yakni pada tipe infeksi High Risk yaitu tipe 16 dan 59 HPV 25% paling banyak ditemukan pada wanita dengan hasil pemeriksaan sitologi abnormal. Sedangkan menurut Badano, et al. 2018 di Argentina Utara menunjukkan bahwa tipe 16 High Risk HPV 18,3% lebih sering menyebabkan terjadinya abnormalitas hasil sitologi. Hal ini juga ditemukan pada penelitian Coser, et al. 2015 di Brazil Selatan yang menunjukkan sebanyak 65,2% partisipan terinfeksi tipe 16 High Risk HPV. Tetapi menurut Mboumba Bouassa, et al. 2019 di N’Djamena Chad, dikatakan bahwa terdapat tipe High Risk HPV lainnya selain tipe 16, yaitu ada tipe 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, dan 68, dimana pada partisipan penelitiannya ditemukan paling banyak yang tipe 56 42,8%. Dari kumpulan data genotype terkait tipe infeksi HPV pada wanita usia reproduktif dapat dinyatakan bahwa pada satu wanita dapat terinfeksi lebih dari satu tipe genotype HPV dan yang paling sering ditemukan dan menyebabkan terjadinya abnormalitas sitologi adalah tipe genotype HPV High Risk. Dari data karakteristik partisipan tersebut juga ditemukan bahwa rata-rata usia dari partisipan berkisaran antara usia 31,5-42,8 tahun. Rentang usia tersebut merupakan rentang usia seorang wanita telah berkeluarga atau telah memiliki anak sehingga ada kemungkinan telah terdapat infeksi HPV sebelumnya. Oleh karena itu, rata-rata usia tersebut dikategorikan dalam kelompok usia berisiko yang terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok usia risiko tinggi dan kelompok usia risiko rendah. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mesalina, et al. 2019, Mbachu, et al. 2017, Febriani 2016, dan Saputri 2016 yang menyatakan bahwa wanita kelompok usia risiko tinggi atau yang telah berusia ≥ 35 tahun lebih sering dijumpai untuk melakukan deteksi dini terhadap kanker serviks. Hal ini dikarenakan semakin bertambahnya usia dapat mempengaruhi adaptasi perilaku seseorang terhadap kepedulian akan kesehatan pribadi Febriani, 2016. Selain rata-rata usia, hasil ekstraksi data juga menjelaskan terkait jumlah pasangan seksual, penggunaan kontrasepsi oral, hubungan seksual pada usia muda, paritas dan jenjang pendidikan. Jumlah pasangan seksual dari partisipan berkisaran antara 0 sampai ≥ 2 pasang Helen, et al., Profil Faktor Risiko Dan Sosiodemografis Kanker Serviks Sebuah Kajian Sistematis, KELUWIH Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, 109-119, June 2022. e-ISSN 2715-6419 113 dan dari satu literatur dengan literatur lainnya menghasilkan pembahasan yang berbeda-beda seperti data Bah Camara, et al. 2018 yang menyatakan bahwa memiliki satu atau lebih pasangan seksual tetap akan menjadi risiko seorang wanita terkena infeksi HPV, sedangkan data dari data Coser, et al. 2015 menyatakan bahwa semakin banyak pasangan seksual semakin berisiko seorang wanita untuk terinfeksi HPV. Akan tetapi berdasarkan data Egli-Gany, et al. 2019 dan Mboumba Bouassa, et al. 2019 menunjukkan bahwa wanita yang memiliki satu pasangan seksual akan lebih cenderung terinfeksi HPV hingga terkena kanker serviks. Walaupun terdapat berbagai variasi hasil dari dampak jumlah pasangan seksual terhadap infeksi HPV, jumlah pasangan seksual tetap menjadi salah satu faktor risiko terhadap penularan infeksi HPV. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ninderia, 2017 yang menyatakan bahwa wanita dengan jumlah pasangan yang banyak akan lebih berisiko untuk menderita kanker serviks di kemudian hari karena infeksi HPV merupakan infeksi menular seksual, sehingga ada kemungkinan dapat terjadi pada wanita yang hanya memiliki satu pasangan seksual. Untuk penggunaan kontrasepsi oral dari partisipan menunjukkan hasil yang tidak dapat disimpulkan dampaknya terhadap infeksi HPV dan kanker serviks karena ada beberapa partisipan yang tidak menggunakan kontrasepsi oral tetapi terinfeksi HPV hingga menderita kanker serviks. Walaupun dampak penggunaan kontrasepsi oral terhadap infeksi HPV dan kanker serviks masih menjadi perdebatan, penggunaan kontrasepsi oral tetap harus menjadi hal yang diperhatikan karena terdapat penelitian sebelumnya yang dilakukan Parwati, et al. 2015 menyatakan bahwa penggunaan kontrasepsi oral dapat menyebabkan terjadinya kanker serviks terutama yang mengandung hormon estrogen dan progestin karena diduga dapat meningkatkan ektropion serviks atau erosi serviks yaitu terdapat pertumbuhan sel-sel kelenjar leher rahim di luar serviks Wulandari, 2017. Sedangkan untuk hubungan seksual pada usia muda dari partisipan menunjukkan hasil bahwa wanita yang pernah melakukan hubungan seksual pada usia muda sekitar usia 16-20 tahun akan lebih berisiko untuk terinfeksi HPV dan menderita kanker serviks. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Makuza, et al. 2015 yang menyatakan bahwa wanita yang pernah melakukan hubungan seksual pada usia 5 tahun 13 2. 20 7 1. ≥ 24 tahun 20,1% 2. 18-23 tahun 43,4% 3. Kejadian kanker serviks mencapai kasus, 90% terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Deteksi dini kanker serviks merupakan salah satu upaya untuk mengurangi prevalensi kasus baru dan kematian akibat kanker servik. Namun, partisipasi perempuan untuk melakukan deteksi dini kanker serviks masih sangat rendah. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan sosio demografi dengan pemanfaatan deteksi dini IVA. Penelitian ini adalah penelitian analitik, desain cross sectional. Tempat penelitian di Bukittinggi, bulan Agustus - November 2018. Populasi penelitian adalah sampel diambil secara cluster sampling sebanyak 191 responden. Data dianalisis secara bivariat dengan Chi-Square. Dari 191 responden. tidak memeriksakan diri dengan IVA, dengan umur berisiko tinggi, berpendidikan menengah, responden tidak bekerja dan dengan paritas berisko tinggi. Hasil uji statistik tidak ada variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan pemanfaatan deteksi dini tidak bekerja, dan responden dengan kelompok paritas berisiko tinggi. Hasil uji statistik dengan kanker serviks metode IVA yaitu umur OR CI 95% – pendidikan pekerjaan CI 95% – dan paritas OR CI 95% – Karakter sosio demografi tidak lagi menjadi satu-satunya tolok ukur dalam melihat keterkaitan responden dengan penggunaan pelayanan kesehatan. Banyak faktor lain yang mempengaruhi pemanfaatan deteksi dini kanker serviks IVA seperti nilai-nilai budaya, hambatan dalam akses pelayanan kesehatan termasuk hambatan psikologis yang dialami oleh wanita usia subur. Kanker serviks merupakan penyebab kematian utama kanker pada wanita di negara-negara berkembang termasuk Indonesia . P enelitian ini bertujuan mengetahui prevalensi pra lesi kanker serviks pada wanita berisiko dan tidak berisiko di Kota Palembang . Penelitian dilakukan dengan desain cross-sectional comparative. Populasi penelitian semua PSK yang ada di Kota Palembang dan semua wanita yang datang berobat ke RS Dr. Mohammad Hoesin Palembang dengan aktifitas seksual yang aktif . Total sampel 40 orang. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan menggunakan uji chi square dan multivariat menggunakan regresi binary logistik . Lebih dari separoh responden pada wanita berisiko mengalami lesi pra kanker serviks 70% sedangkan pada wanita tidak berisiko 20%. Uji statistik diketahui usia pertama kali berhubungan seksual, jumlah partner seksual, merokok, penggunaan kontrasepsi hormonal dan riwayat keputihan berhubungan dengan lesi prakanker serviks p value 0,05. Faktor dominan lesi prakanker serviks adalah riwayat keputihan dengan OR 109. Kata kunci Lesi Prakanker Serviks, Riwayat Keputihan 5 tahun maupun <5 tahun meningkatkan risiko lesi pra-kanker leher rahim dibandingkan yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal masing-masing dengan OR=10,7 95%CI 1,04-108,17 dan OR=3,0 95%CI 1,16-7,84. Riwayat IMS juga meningkatkan risiko lesi pra-kanker leher rahim dengan OR=9,7 95%CI 3,83-24,18.Simpulan Pemakaian kontrasepsi hormonal dan riwayat IMS meningkatkan risiko lesi pra-kanker leher The aims of the study were to estimate the prevalence of breast and cervical cancer screening among women in the South African general population and assess associated factors. Methods Data from a national populationbased cross-sectional household survey in South Africa in 2012 for 10,831 women aged 30+ years were analysed using bivariate and multivariable logistic regression. The outcome variables were cervical cancer screening Papanicolaou smear test and breast cancer screening mammography. Exposure variables were sociodemographic factors, lifestyle variables, and chronic conditions. Results The prevalences of Papanicolaou PAP smear test and mammography participation were and respectively. On multivariable logistic regression analysis, women with higher education, those who were non-black African, having medical aid and having chronic conditions were more likely to undergo a Pap smear test and mammography. Living in rural areas was related to a lower likelihood of receiving both types of screening. In addition, undertaking moderate or vigorous physical activity was associated with breast cancer screening. Conclusion Screening for cervical cancer was relatively high but for breast cancer it was low, despite the latter being a major public health problem in South Africa. This may be attributed to the limited availability, affordability, and accessibility of breast cancer screening services among socio-economically disadvantaged individuals There are some socio-economic disparities in adopting both breast and cervical cancer screening guidelines that could be targeted by of Peer Health Education on Perception And Practice of Screening For Cervical Cancer Among Urban Residential Women In South-East Nigeria A Before And After StudyC MbachuD CyillE UcheMbachu C, Cyill D, Uche E. 2017. Effects of Peer Health Education on Perception And Practice of Screening For Cervical Cancer Among Urban Residential Women In South-East Nigeria A Before And After Study. BioMed Central Women's Health,1-8.
Kanker serviks merupakan penyakit yang terjadi pada wanita. Kasus setiap tahunnya yang semakin bertambah dan dapat menimbulkan kematian bagi penderitanya, perlu diatasi bersama melalui program penanggulangan penyakit kanker serviks. Makalah ini membahas mengenai kanker serviks secara epidemiologis, pencegahan dan pengobatan, serta program penanggulangan yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free PROGRAM PENANGGULANGAN PENYAKITTOPIK KANKER SERVIKSDisusun untuk memenuhi Tugas KelompokMata Kuliah Program Penanggulangan PenyakitDosen Pengampu Dr. dr. Krisnawati Bantas, olehKelompok 10Fadia Isnaini 1906350130Icha Tiara Devi Febrianti 1906350300Naura Athira Putri 1906397462PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKATFAKULTAS KESEHATAN MASYARAKATUNIVERSITAS INDONESIA2022 1. Aspek Klinis Penyakita. Etiologi Kanker ServiksKemenkes 2019 mendefinisikan kanker sebagai penyakit tidakmenular yang ditandai dengan adanya sel atau jaringan abnormal yangtumbuh/menggandakan diri dengan cepat, tidak terkendali, ganas, dan dapatmenyebar ke bagian tubuh lainnya. Kanker dapat menyebar melalui 2 jalur,yaitu pembuluh darah dan pembuluh limfatik atau getah bening. Sel kankerdapat berasal dari semua unsur yang membentuk organ. Salah satu jeniskanker yang umum ditemukan adalah kanker pada serviks atau leher rahimwanita, yang dikenal dengan nama kanker serviks Gambar 1.Gambar 1. Kanker Serviks Stadium IB2Sumber 2022Kanker disebabkan oleh mutasi DNA cacat gen yang mengaktifkanonkogen gen yang berpotensi menyebabkan kanker atau mematikan gensupresor tumor. HPV atau Human Papilloma Virus merupakan virus yangmemiliki 2 protein yang dikenal dengan protein E6 dan E7 yang dapatmematikan beberapa gen supresor tumor Gambar 2. Hal ini berpotensi untukmenyebabkan sel-sel yang melapisi serviks tumbuh terlalu banyak dan dalambeberapa kasus dapat berakibat pada terjadinya kanker. WHO memperkirakanbahwa lebih dari 95% kejadian kanker serviks berhubungan dengan infeksiHPV. HPV merupakan virus DNA sirkuler dengan untai ganda, tidak memilikiselubung, dan berukuran sangat kecil, yaitu sekitar 55 nm. Lebih dari 200 jenis HPV telah teridentifikasi. Terdapat dua tipe virus HPV, yaitu HPV onkogenikrisiko tinggi yaitu tipe 16, 18, 31, 33, 45, 52, dan 58, serta HPVnon-onkogenik risiko rendah yaitu tipe 6, 11, 32, dan lainnya. HPV yangpaling banyak berhubungan dengan kejadian kanker serviks adalah HPV tipe16 dan 18. Selain kanker serviks, HPV juga dapat menyebabkan jenis kankerlain, seperti kanker anus, vulva, vagina, penis, dan kanker oral. Tidak semuaHPV dapat menyebabkan kanker, seperti HPV tipe 6 dan 11 yang dapatmenimbulkan kutil kelamin yang umum dijumpai. Bahkan, tidak semua orangyang memiliki HPV akan terkena merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam kasuskejadian kanker serviks. Namun, keberadaan HPV saja tidak cukup necessarybut not sufficient. Diperlukan faktor-faktor risiko lainnya untuk menyebabkaninfeksi HPV tersebut bermanifestasi menjadi kanker serviks. Selain itu,dibutuhkan waktu yang sangat lama bagi kanker serviks untuk berkembang,yaitu sekitar 15-20 tahun bagi wanita dengan sistem imun yang normal dan5-10 tahun bagi wanita dengan sistem imun yang 2. Human Papilloma VirusSumber Evriati dan Yasmon 2019b. Patogenesis Kanker Serviksi. PatogenesisPatogenesis merupakan proses terjadinya penyakit dimulai darifase awal infeksi sampai dengan timbulnya reaksi akhir penyakitKBBI, 2016. Berikut ini akan dijelaskan terkait patogenesis darikanker serviks gambar 3 Gambar 3. Patogenesis Kanker ServiksSumber Stewart, et al 2014Berdasarkan gambar 3, dapat dilihat kondisi sel yang semakinabnormal, terminologi sistem displasia sel abnormal yang belum tentubersifat kanker/karsinoma, sistem cervical intraepithelial neoplasiaCIN, sistem sitologi gambaran sel, pengelupasan sel superfisial danlesi histopatologi gambaran jaringan.Proses terjadinya kanker serviks bermula dari adanya infeksiHPV yang menyebarkan virus ke seluruh sel basal imatur pada epitelskuamosa serviks dalam kurun waktu 0-1 tahun sehingga terjadi CIN IAmerican Cancer Society, 2018. Menurut WHO 2014, padatahapan ini, terjadi perubahan sel dari normal menjadi atypia selabnormal ditandai adanya perubahan bentuk, warna, ukuran danmenyebabkan kelainan epitel atau disebut dengan cervicalintraepithelial neoplasia CIN. Menurut Stewart, et al 2014, CIN memiliki beberapatingkatan keparahan meliputi1. CIN I displasia ringan menyebabkan lesi intraepitelskuamosa derajat rendah dengan proksi infeksi HPV yang tidaksensitif dan bukan pra kanker. Perubahan yang paling menonjolpada CIN I yaitu ⅓ sepertiga sel basal epitel menjadiabnormal dan mempengaruhi ketebalan epitel juga inti darilapisan atas epitel. Sel yang mengelupas dapat dideteksi dengantes pap smear untuk uji sel abnormal. Rata-rata berkembang difase awal infeksi HPV pada wanita usia subur yang berusia24-27 tahun aktif bereproduksi.2. CIN II displasia sedang menyebabkan lesi intraepitelskuamosa derajat tinggi grade 2 dengan kelompok lesiheterogen yang berpotensi menjadi kanker. Perubahan ditandaidengan kelainan sel di ⅓ sepertiga bagian bawah dan tengahepitel. Lesi dapat terdeteksi melalui pemeriksaan CIN III displasia berat menyebabkan lesi intraepitelskuamosa derajat tinggi grade 3 yang paling relevan secaraklinis menjadi kanker serviks dan titik akhir untuk mengujiskrining dan vaksinasi. Rata-rata berkembang pada wanita usiaumur 35-42 CIN disebabkan karena adanya infeksi permisifHPV yang terus bereplikasi secara bebas dan menyebabkan kematiansel khususnya pada CIN II dan CIN III. Proses ini disebut denganinfeksi persisten HPV yang dapat menyebabkan hambatan bagi epitelskuamosa serviks untuk berkembang karena terjadi lesi intraepitelskuamosa. Terdapat perbedaan jenis HPV yang menyebabkan CIN I,II, III. Dalam banyak kasus CIN II dan III, DNA virus akanberintegrasi ke dalam genom sel sehingga menyebabkan 85% lesi CINI yang mengandung HPV risiko rendah seperti HPV 6 atau HPV risiko rendah tidak akan menyebabkan kanker serviks namundapat menyebabkan kutil kelamin/kondiloma. Pada sel-sel di CIN IIdan III lesi intraepitel skuamosa derajat tinggi akan mengandung HPV risiko tinggi seperti HPV 16 dan HPV 18, serta dapat juga HPV58, 33, 45, 31, 52, 35 Stewart, et al, 2014.Rata-rata waktu infeksi persisten HPV yang menyebabkan CINderajat tinggi kanker serviks pra-invasif ke invasif yaitu kurun waktu0-5 tahun sampai terjadi CIN II dan 1-20 tahun sampai terjadi CIN III,namun kanker juga dapat berkembang dalam waktu yang lebih tahapan ini, program skrining terorganisir dibutuhkan untukmengidentifikasi lesi prakanker agar mendapatkan pengobatan yangtepat sebelum berkembang menjadi parah. Jika tidak mendapatkanpengobatan, lesi prakanker akan terus berkembang menjadi kankerserviks invasif American Cancer Society, 2018.Lesi intraepitel skuamosa derajat rendah yang berkembangmenjadi lesi derajat tinggi sekitar 20% CIN III akan berkembangmenjadi karsinoma invasif dalam kurun waktu 10 tahun. Secara jenishistologisnya, kanker serviks terbagi menjadi karsinoma sel skuamosadan adenokarsinoma Stewart, et al, 2014; WHO, 2014. Berikutpenjelasannya1. Pada karsinoma sel skuamosa invasif superfisial ataumikroinvasif tahap awal kanker serviks invasif invasi stromaterjadi dari adanya lesi intraepitel skuamosa di atasnya, yangstadium keparahannya didasarkan pada lebar dan kedalamaninvasi. Perubahan stroma dapat dilihat dengan munculnya tunasepitel 0,2 kelenjar getah bening regionalDefinisi Metastasis Jauh MTidak ada metastasis jauh termasuk penyebaran peritoneum atauketerlibatan kelenjar getah bening supraklavikula,mediastinum, atau jauh ke paru-paru, hati, atau 1. Stadium Kanker Serviks dengan FIGO dan TNMSumber American Cancer Society, 2018Gambar 5. Tampilan Stadium Kanker ServiksSumber American Cancer Society, 2018 c. Gejala dan Tanda Kanker ServiksKanker serviks umumnya pada stadium awal belum menunjukan gejaladan tanda tertentu. Akan tetapi pada stadium lanjut, gejala-gejala kankerserviks baru bermunculan dan dirasakan oleh para penderitanya. Sehinggalebih baik jika saat gejala muncul, sesegera mungkin periksakan gejalatersebut kepada dokter. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan apakahbenar terdapat virus HPV yang menginfeksi serviks. Gejala dan tanda kankerserviks yang umumnya muncul, yaitu●Nyeri pada panggul●Menstruasi yang tidak teratur●Nyeri ketika melakukan hubungan seksual●Pendarahan vagina yang abnormal seperti selama atau setelahberhubungan seksual, pada periode menopause atau setelahnya, danmenstruasi yang lebih banyak dari biasanya●Keputihan berupa cairan encer berwarna putih kekuningan danbercampur darah atau nanahKanker serviks stadium awal seringkali asimtomatik tidak bergejalasehingga perlu adanya skrining dengan tes Pap yang abnormal, biopsi serviks,ataupun IVA. Gejala lainnya dari penyakit yang lebih lanjut yaitu keputihanatau bau yang berlebihan, nyeri panggul, nyeri punggung bawah yangmenjalar ke kaki, gejala kencing seperti hematuria, dan gejala usus sepertisembelit atau hematochezia. Trias gejala kanker serviks stadium lanjut berupanyeri panggul, skiatika atau nyeri punggung menjalar ke pinggul sampaidengan kaki, dan limfedema ekstremitas gejala dan tanda kanker serviks yang disebutkan muncul padaseseorang, maka lebih baik untuk segera melakukan biopsi oleh dokter ahliobstetri dan ginekologi. Namun jika belum terdapat gejala dan inginmelakukan pemeriksaan dini, deteksi dini yang umum dilakukan adalahpemeriksaan IVA Inspeksi Visual Asam Asetat atau Pap Smear. PemeriksaanIVA dilakukan dengan cara mengoleskan asam asetat pada serviks. Jikasetelah dioleskan terdapat perubahan warna, maka tes IVA dinyatakan diketahui tes IVA positif, maka lakukan konseling dan pengobatansegera. Jika hasil tes IVA negatif, maka beri penjelasan kepada orang tersebutuntuk kembali mengulangi pemeriksaan IVA. Untuk hasil dari pemeriksaan IVA lebih cepat keluar dibandingkan dengan pap smear. Sebab pemeriksaanpap smear harus melakukan pemeriksaan ke lab dari sampel sel leher rahimyang sudah diambil. Jika dari hasil pemeriksaan lab tersebut diketahui ada selyang abnormal, maka segera lakukan Treatment Kanker ServiksMenurut Kemenkes, terdapat beberapa jenis pengobatan kanker serviksyang dibedakan berdasarkan tingkat keparahannya, yaitua. Stadium 0Pada stadium ini, dapat dilakukan konisasi, yaitu pengangkatanjaringan abnormal pada serviks. Apabila diperlukan, maka dapatdilakukan rekonisasi ketika sel kanker tumbuh kembali. Selainkonisasi, dapat juga dilakukan histerektomi total pengangkatan rahimdan serviks apabila wanita tersebut tidak memerlukan kondisi Stadium IA1 dengan LVSI negatifPada stadium 1A1 dengan LVSI invasi limfovaskular, adanya seltumor dalam pembuluh darah atau pembuluh getah bening negatif,maka dapat dilakukan konisasi, rekonisasi, dan histerektomi Stadium 1A1 dengan LVSI positifPada stadium 1A1 dengan LVSI positif, maka dapat dilakukan operasitrakelektomi radikal dan limfadenektomi pelvik, yaitu pengangkatanserviks, vagina bagian atas, dan kelenjar getah bening di area tidak dapat melakukan operasi, maka dapat dilakukanbrakiterapi, yaitu meletakkan sumber radiasi pada tumor dalam jarakyang Stadium IA2, IB1, dan IIA1Pada stadium IA2, IB1, dan IIA1, dapat dilakukan brakiterapi dankemoradiasi gabungan kemoterapi dan radiasi yang diberikan selamaperiode waktu yang sama dengan radioterapi, biasanya 1-5 kaliseminggu selama 14 minggu. Selain itu, dapat dilakukan upayaoperatif berupa histerektomi radikal pengangkatan semua organreproduksi dan limfadenektomi pelvik pengangkatan kelenjar getahbening di area pinggul. e. Stadium IB2 dan IIA2Pada stadium ini, dapat dilakukan histerektomi radikal danlimfadenektomi pelvik, serta neoadjuvant kemoterapi kemoterapiyang bertujuan untuk mengecilkan ukuran tumor, sehingga dapatdilakukan tindakan operasi.f. Stadium IIBPada stadium IIB, dapat dilakukan kemoradiasi, radioterapi terapiradiasi dengan sinar-X tanpa kemoterapi, dan Stadium III A dan III BPada stadium III A dan III B tanpa gagal ginjal kronis, dapat dilakukankemoradiasi dan III B dengan CKDPada stadium III B dengan gangguan gagal ginjal kronis, dapatdilakukan kemoradiasi, radioterapi, dan hemodialisa terapi cucidarah.i. Stadium IV A tanpa CKDApabila tidak disertai dengan gagal ginjal kronis dan disertai fistularekto-vaginal terbentuknya saluran abnormal yang menghubungkananus dengan vagina, maka dapat dilakukan kolostomi pembedahankolon atau usus besar yang diangkat ke dinding perut untuk membuatlubang sebagai saluran pembuangan feses. Kemudian, dapat dilakukankemoradiasi paliatif atau radioterapi Stadium IV A dengan CKD dan IV BPada stadium ini, dapat dilakukan kemoterapi terapi dengan bahankimia yang sangat kuat paliatif dan radioterapi paliatif. Perawatanpaliatif bertujuan untuk memaksimalkan kualitas hidup pasien ketikapenyakit tidak bisa disembuhkan secara Komplikasi Kanker ServiksMenurut NHS inform 2022, komplikasi kanker serviks dapat terjadisebagai efek samping dari pengobatan atau akibat kanker serviks stadiumlanjut. Efek samping dari pengobatan dapat berupa1. Menopause dini Bagian ovarium yang diangkat melalui pembedahan atau rusakselama perawatan dengan radioterapi akan memicu menopause dinijika individu belum mengalaminya. Menopause terjadi ketikaovarium berhenti memproduksi hormon estrogen dan beberapa gejala yang dialami yaitua. Wanita tidak lagi memiliki periode bulanan atau menstruasimenjadi tidak teratur,b. Hot flashes adalah sensasi kepanasan hebat pada wanita,biasanya terasa pada wajah sehingga memerah,c. Kekeringan vagina,d. Kehilangan gairah seks,e. Perubahan suasana hati,f. Stres inkontinensia adalah urine yang bocor saat menekankandung kemih dengan batuk, bersin, tertawa,g. Keringat malamh. Penipisan tulang osteoporosis sehingga tulang menjadi dapat dikurangi dengan mengkonsumsi obat yangmampu merangsang produksi estrogen dan progesteron. Perawatandikenal dengan hormone replacement therapy HRT.2. Penyempitan vaginaRadioterapi dalam pengobatan kanker serviks seringkalimenyebabkan vagina menjadi lebih sempit. Vagina yang menyempitdapat membuat hubungan seks menjadi menyakitkan atau dua pilihan pengobatan terhadap vagina yang menyempityaitua. Mengoleskan krim hormonal ke vagina untuk meningkatkankelembaban di dalam vagina dan mempermudah selamahubungan Menggunakan dilator vagina, yaitu alat berbentuk tampon yangterbuat dari plastik. Dilator menjadi pengobatan standar yangtelah diakui digunakan selama penyempitan dengan cara dimasukkan ke dalam vagina untukmembantu vagina lebih longgar. Lama penggunaan dilator disarankan selama 5-10 menit setiap kali secara teratursepanjang hari selama 6 hingga 12 LimfedemaJika kelenjar getah bening di panggul diangkat akanmempengaruhi kerja normal sistem limfatik penderita. Salah satufungsi sistem limfatik yaitu mengalirkan kelebihan cairan dari jaringantubuh. Gangguan pada proses ini menyebabkan penumpukkan cairan dijaringan atau limfedema. Limfedema menyebabkan bagian tubuhtertentu menjadi bengkak khususnya di kaki penderita kanker tersebut dapat diminimalisir melalui latihan dan teknikpijat ataupun menggunakan perban yang dirancang khusus, sertapakaian Dampak emosionalHidup dengan kanker serviks secara signifikan mempengaruhiemosional penderita. Banyak orang yang melaporkan mengalami efek“rollercoaster” seperti merasa sedih ketika mengetahui diagnosispenyakit, kemudian merasa lebih baik ketika pengangkatan kankertelah dikonfirmasi. Namun setelahnya penderita akan merasa sedih lagiketika harus menerima efek setelah gangguan emosional dapat memicu depresi yang ditandaidengan perasaan sedih, putus asa, dan kehilangan minat pada hal-halyang diminati sebelumnya. Penanganan dokter perlu dilakukan agarmendapatkan perawatan yang efektif termasuk obat antidepresan danterapi bicara seperti cognitive behavioural therapy CBT. Selain itu,perlu bantuan dari komunitas sesama kanker serviks untukmeningkatkan semangat hidup efek dari pengobatan, terdapat beberapa komplikasi yangdiakibatkan oleh kanker serviks stadium lanjut diantaranya1. Rasa sakitKanker yang telah menyebar sampai ke ujung saraf, tulang,atau otot dapat menyebabkan rasa nyeri yang parah pada pereda nyeri efektif untuk mengendalikan rasa sakit. Jenisobat-obatan yang digunakan tergantung pada tingkat rasa sakitnyamisalnya paracetamol, obat antiinflamasi nonsteroid NSAID seperti ibuprofen hingga obat penghilang rasa sakit berbasis opiat yang lebihkuat seperti kodein dan morfin. Jika obat yang diberikan selamaperawatan tidak efektif mengurangi rasa sakit, perlu dikonsultasikankembali agar diberi resep obat yang lebih kuat. Pengobatan lain sepertiterapi radioterapi juga dapat efektif dalam mengendalikan rasa Gagal ginjalGinjal berfungsi sebagai tempat pembuangan material limbahyang berasal dari darah. Limbah tersebut dikeluarkan tubuh berupaurin melalui ureter. Fungsi ginjal dapat dipantau dengan tes darah ataudisebut dengan kadar kreatinin serum. Dalam beberapa kasus kankerserviks stadium lanjut, tumor kanker dapat menekan ureter sehinggamenghalangi aliran urin keluar dari ginjal dan terjadi penumpukan urinhidronefrosis yang dapat menyebabkan ginjal bengkak danmeregang. Kasus hidronefrosis parah menyebabkan ginjal menjadijaringan parut yang dapat menyebabkan gagal ginjal. Gagal ginjalmerupakan hilangnya sebagian besar atau semua fungsi ginjal. Gejalaterjadinya gagal ginjal yaitua. Kelelahanb. Pergelangan kaki, kaki, atau tangan bengkak akibat retensipenyimpanan airc. Sesak napasd. Merasa sakite. Darah dalam urin hematuriaPengobatan yang dapat dilakukan untuk gagal ginjal akibatkanker serviks yaitu dengan mengeluarkan urin dari ginjal dengantabung/selang yang dimasukkan melalui kulit dan ke dalam setiapginjal nefrostomi perkutan, cara lain seperti melebarkan ureterdengan menempatkan tabung logam kecil stent di Blood cloths atau pembekuan/penggumpalan darahKanker serviks menyebabkan darah lebih pekat/lengket danlebih rentan membentuk gumpalan. Istirahat di tempat tidur setelahoperasi dan kemoterapi dapat meningkatkan risiko terjadinyapenggumpalan darah. Faktor lainnya yaitu tumor besar menekanpembuluh darah di panggul sehingga memperlambat aliran darah yang menyebabkan pembekuan darah berkembang di kaki. Gejala terjadinyagumpalan darah di kaki meliputia. Nyeri, bengkak, dan rasa nyeri tertekan pada salah satu kakiseperti betisb. Sakit parah di area yang terjadi gumpalanc. Kulit hangat di area gumpaland. Kemerahan pada kulit, terutama di bagian belakang kaki/dibawah lututRisiko yang perlu diwaspadai pada pembekuan darah di venakaki yaitu bekuan darah yang naik ke paru-paru dan menghalangisuplai darah emboli paru yang dapat berakibat fatal. Pengobatan yangdapat dilakukan yaitu dengan kombinasi obat pengencer darah sepertiheparin atau warfarin, dan pakaian kompresi yang dirancang untukmembantu mendorong aliran darah melalui anggota Bleeding atau pendarahanKanker yang menyebar ke vagina, usus, atau kandung kemihdapat menyebabkan kerusakan yang mengakibatkan pada vagina atau rektum yaitu mengeluarkan darah saatbuang air kecil. Penanganan pendarahan disesuaikan dengan besaranpendarahannya sepertia. Pendarahan kecil dapat diobati dengan obat asam tersebut mampu mempengaruhi darah untuk menggumpaldan menghentikan pendarahan. Radioterapi juga dapat efektifuntuk mengendalikan pendarahan yang disebabkan oleh Pendarahan besar dapat diobati sementara dengan vaginalpacking kain kasa untuk membendung pendarahan, dapat jugadengan tindakan pembedahan, radioterapi atau memotongsuplai darah ke FistulaFistula merupakan saluran abnormal yang berkembang diantara dua bagian tubuh seperti antara kandung kemih dan vagina yangberkembang pada penderita kanker serviks, atau dapat juga di antaravagina dan rektum ambeien. Kondisi tersebut menyebabkankeluarnya cairan terus menerus dari vagina. Fistula adalah komplikasi yang jarang terjadi dan menyulitkan sekitar 1 dari 50 kasus kankerserviks stadium yang dapat dilakukan yaitu pembedahan perbaikanfistula, meskipun seringkali tidak mungkin dilakukan pada wanitadengan kanker serviks stadium lanjut karena terlalu lemah untukmenahan efek pembedahan. Pada kasus ini, perawatan yang diberikandapat menggunakan obat-obatan, krim, dan lotion untuk mengurangijumlah cairan yang keluar, melindungi vagina dan jaringan disekitarnya dari kerusakan dan KeputihanKomplikasi kanker serviks stadium lanjut yaitu keluarnyacairan berbau tidak sedap dari vagina. Terjadinya keputihandisebabkan karena adanya kerusakan jaringan, kebocoran kandungkemih atau isi usus keluar dari vagina, dan infeksi bakteri pada keputihan yaitu dengan gel antibakteri atau metronidazoldan mengenakan pakaian yang mengandung charcoal. Charcoal adalahsenyawa kimia yang sangat efektif dalam menyerap bau tidak beberapa kelompok yang memiliki risiko tinggi terjadinyakanker serviks, diantaranya1. Kanker serviks dan infeksi human immunodeficiency virus HIVKanker serviks adalah penyakit yang menentukan terjadinyaAcquired Immunodeficiency Syndrome AIDS pada pasien denganHIV. Wanita yang hidup dengan HIV dan wanita dengan gangguanimun lainnya memiliki prevalensi HPV yang lebih tinggi risiko infeksimeningkat dengan tingkat imunosupresinya dan prevalensinya lebihtinggi dari infeksi HPV persisten atau infeksi dengan beberapa jenisHPV risiko tinggi WHO, 2014.Peningkatan kerentanan terhadap infeksi HPV ini menyebabkanterjadinyaa. peningkatan risiko pra-kanker dan kanker yang lebih besar padausia yang lebih muda seiring dengan tingkat imunosupresi;b. peningkatan risiko terkena kanker serviks invasif hingga 10tahun lebih awal dibandingkan pada wanita yang tidakterinfeksi HIV; c. persentase meningkatnya penyakit komplikasi lanjut memilikikemungkinan bertahan hidup yang lebih kecil selama yang dapat dilakukan yaitu mengembangkanvaksinasi, skrining dan protokol pengobatan khusus untuk wanita yanghidup dengan HIV dan bagi semua wanita yang tinggal di negara atauwilayah dengan prevalensi HIV yang tinggi. Penatalaksanaanpenanganan kanker serviks dengan kolposkopi dan biopsi, tidak bolehdiubah berdasarkan status HIV seorang wanita. Selama prosespenyembuhan, wanita yang hidup dengan HIV memiliki kemungkinanterjadinya peningkatan pelepasan virus HPV. Selain itu, pemberiankonseling dilakukan untuk menekankan pasien agar tidak melakukanhubungan seksual sampai terjadi kesembuhan WHO, 2014.2. Kanker serviks pada ibu hamilKasus ini jarang terjadi dan jarang mempengaruhi bayi dalamkandungan secara langsung karena kanker serviks tidak melewatiplasenta. Jikalau terjadi penurunan ke janin biasanya karenadipengaruhi oleh penyebaran langsung dari tumor serviks yang sangatbesar atau komplikasi dari pengobatan. Terdapat dua kemungkinanWHO, 2014a. Pasien mempertahankan kehamilannyaJika mempertahankan kehamilan, maka sebagian besarperawatan kanker serviks dilakukan setelah melahirkan. Dokterperlu memberitahu pasien untuk menghindari komplikasipersalinan akibat dilatasi serviks pendarahan, sehinggapersalinan akan dilakukan dengan operasi caesar terencanasebelum persalinan. Kehamilan bukanlah waktu yang idealuntuk melakukan tes skrining namun jika ditemukan hasilabnormal lesi pasien dapat dirujuk untuk biopsi ataukolposkopi. Pelaksanaan biopsi di tingkat tersier tetap pentingdilakukan untuk mengetahui perkembangan lesi, namun perludiantisipasi terjadinya pendarahan yang lebih berat. Biopsimemiliki risiko kecil menyebabkan terjadinya keguguran. Kolposkopi dilakukan setelah 6-12 minggu pasca persalinanuntuk pemeriksaan dan mendapatkan perawatan Pasien tidak mempertahankan kehamilannyaPengobatan ditentukan berdasarkan stadium kanker. Jikakondisi pasien bisa ditangani dengan histerektomisederhana/radikal dan belum menyebar terbatas pada serviks,pembedahan dapat dipertimbangkan tergantung dengan usiakehamilannya. Radioterapi primer dapat dilakukan, namunperlu diinformasikan risiko pengobatan akan menyebabkankehilangan Prognosis Kanker ServiksPrognosis dari kanker serviks dipengaruhi oleh faktor klinikopatologi yang berhubungan dengan kesintasan, yaitu stadium,status metastasis Kelenjar Getah Bening KGB, ukuran tumor, invasi kejaringan parametrium, kedalaman invasi, dan invasi American Joint Committee on Cancer AJCC tahun 2010, angkakelangsungan hidup 5 tahun dari kanker serviks berdasarkan stadiumnyaadalah stadium IA 93%, IB 80%, IIA 63%, IIB 58%, IIIA 35%, IIIB 32%, IVA16% dan IVB 15%. Semakin tinggi stadium kankernya, maka semakin kecilpresentase kelangsungan hidupnya dalam 5 tahun kedepan. Selanjutnya, statusmetastasis KGB, jika terdapat metastasis ke KGB maka 5-Year Survival Rate5-YSR antara 20-74% bergantung pada jumlah, ukuran, dan lokasimetastasis. Apabila tidak terdapat metastasis ke KGB, maka 5-YSR antara85-90%.Faktor lainnya adalah ukuran tumor dari penderita. Jika ukuran tumordari penderita 2 cm 5-YSRsekitar 60%. Semakin besar ukuran tumor yang dimiliki oleh penderita, makaangka survival penderita semakin kecil. Lalu penderita dengan invasi kejaringan parametrium memiliki 5-YSR sekitar 69% sedangkan penderita tanpainvasi sekitar 95%. Faktor selanjutnya adalah kedalaman invasi 1 cm5-YSRnya turun menjadi sekitar 63-78%. Faktor terakhir, yaitu invasilimfovaskular yang masih terdapat perbedaan pendapat karena ada penelitian yang menunjukan tidak ada perbedaan angka survival antara penderita denganinvasi atau tidak. Sebagian penelitian melaporkan bahwa bila terdapat invasilimfovaskular maka 5-YSR sekitar 50-70% dan jika tidak ada invasi 5-YSRsekitar 90%. 2. Aspek Epidemiologi Penyakita. Gambaran Epidemiologi Kanker Serviksi. Secara GlobalGambar 6. Kasus Baru dan Kematian Akibat Kanker secara Global Tahun2020Sumber WHO, 2020Pada tahun 2020, WHO memperkirakan bahwa terdapat 19,3 jutainsidens kanker di seluruh dunia, diikuti dengan 10 juta kematian yangdisebabkan oleh kanker. Secara global, kanker serviks menduduki posisiketujuh sebagai kanker yang paling banyak terjadi, dengan estimasi kasus baru WHO, 2020. Sekitar 90% dari kasus baru kanker serviksini terjadi pada negara dengan tingkat pendapatan rendah dan menengah. Halini disebabkan karena pada negara-negara dengan penghasilan rendah danmenengah, akses terhadap tindakan pencegahan ini terbatas dan kanker servikssering kali tidak teridentifikasi sampai penyakit itu berkembang lebih negara-negara dengan penghasilan tinggi memiliki program yangmemadai terkait vaksinasi HPV, skrining secara teratur, dan pengobatan yanglebih serviks juga menempati posisi kesembilan sebagai kanker yangpaling banyak menyebabkan kematian, dengan estimasi sebanyak pada 2020 WHO, 2020. Pada wanita, kanker serviks menempatiposisi keempat sebagai kanker yang paling banyak terjadi setelah kankerpayudara, kolorektal, dan paru-paru. Gambar 7. Incidence Rate Kanker Serviks secara Global Tahun 2018Sumber Arbyn, et al., 2020Berdasarkan incidence rate kanker serviks di dunia tahun 2018,terdapat 15 negara dengan incidence rate sebanyak 40-80 per orangwanita. Negara dengan incidence rate tertinggi paling banyak berada di BenuaAfrika, seperti Afrika Selatan, Tanzania, Zimbabwe, dan 8. Mortality Rate Kanker Serviks secara Global Tahun 2018Sumber Arbyn, et al., 2020Berdasarkan mortality rate kanker serviks di dunia tahun 2018,terdapat 15 negara dengan mortality rate sebanyak 32-42 per orangwanita. Negara dengan mortality rate tertinggi paling banyak berada di BenuaAfrika, seperti Mozambique, Tanzania, Zimbabwe, dan Madagaskar. Gambar 9. Incidence Rate Kanker Serviks secara Global Tahun 2020Sumber WHO, 2020Dari kejadian kanker serviks tahun 2020, wilayah yangmemiliki incidence rate paling tinggi berada di Benua Afrika, yaitu negaraEswatini 84,5 per Malawi 67,9 per Zambia 65,5 Tanzania 62,5 per dan Zimbabwe 61,7 per 10. Mortality Rate Kanker Serviks secara Global Tahun 2020Sumber WHO, 2020Dari kematian akibat kanker serviks tahun 2020, wilayah yangmemiliki mortality rate paling tinggi berada di Benua Afrika, yaitu negaraEswatini 55,7 per Malawi 51,5 per Zambia 43,4 Zimbabwe 43 per dan Tanzania 42,7per Gambar 11. Prevalensi Kanker Serviks secara Global Tahun 2015-2020Sumber WHO, 2020Berdasarkan prevalensinya dari tahun 2015-2020, kejadian kankerserviks paling banyak terjadi di Asia Timur, diikuti dengan Asia Selatan, AsiaTenggara, Amerika Selatan, dan juga Afrika Timur. WHO 2020mengestimasikan bahwa terdapat sekitar kasus kejadian kankerserviks dalam 5 Secara NasionalGambar 12. Insidensi Kanker Serviks di Indonesia Tahun 2020Sumber GLOBOCAN, 2020Pada tahun 2020, WHO mengestimasikan bahwa terdapat kasus baru kanker di Indonesia. Kanker serviks berada pada posisi kedua setelah kanker payudara, yaitu sekitar kasus, diikuti dengankanker paru-paru, kolorektal, hati, dan kanker 13. Incidence Rate Kanker Serviks di Indonesia Tahun 2020Sumber WHO, 2020Berdasarkan incidence rate tahun 2020, Indonesia berada pada posisipertama di Asia Tenggara, dengan tingkat kejadian sebanyak 24,4 per 14. Mortality rate akibat Kanker Serviks di Indonesia Tahun 2020Sumber WHO, 2020WHO 2020 mengestimasikan terdapat kematian akibat kankerserviks di Indonesia. Berdasarkan mortality rate tahun 2020, Indonesiamemiliki tingkat kematian yang sama dengan negara Myanmar, yaitusebanyak 14,4 per wanita. Gambar 15. Prevalens Rate Kanker di Indonesia Tahun 2013-2018Sumber Kementerian Kesehatan RI, 2019Berdasarkan daerah, prevalens rate kanker di Indonesia paling tinggiberada pada Daerah Istimewa Yogyakarta 4,86 per 1000 penduduk, SumateraBarat 2,47 per 1000 penduduk, dan Gorontalo 2,44 per 1000 pendudukpada tahun 16. Estimasi Jumlah Kanker Serviks dan Payudara di Indonesia Tahun 2013Sumber Kementerian Kesehatan RI, 2019Berdasarkan data yang dipublikasikan dalam Riskesdas 2013, dapatdilihat bahwa jumlah penderita kanker serviks pada tahun 2013 paling banyak berada di daerah Jawa Timur kasus, Jawa Tengah kasus, danJawa Barat kasus dengan total sebanyak 17. Insiden dan Kematian akibat Kanker Serviks di Indonesia Tahun 2020Sumber ICO/IARC Information Centre on HPV and Cancer, 2021Berdasarkan usia, insidens kanker serviks di Indonesia pada tahun2020 paling banyak terjadi pada kelompok umur 60-64 tahun dengan angkakematian paling tinggi pada kelompok umur 70-74 Faktor Risiko Kanker ServiksInfeksi HPV yang berkembang hingga menjadi kanker serviks dapatterjadi karena didukung oleh beberapa faktor yang terbukti mempengaruhiperkembangan penyakit setelah tubuh terinfeksi HPV. Menurut Perry fakto-faktor yang mampu mempengaruhi perkembangan kankerserviks diantaranya Gambar 18. Gambar 18. Faktor Risiko Kanker ServiksSumber Perry 20141. Faktor virusInfeksi virus HPV adalah faktor risiko terkuat yangmenyebabkan persistensi penyakit hingga menjadi kanker serviks padawanita, meskipun potensi onkogenik dari jenis HPV ini dari 13 jenis HPV penyebab kanker serviks, HPV 16merupakan jenis yang paling kuat bertahan dan paling karsinogenikmenyebabkan infeksi dan berkembang menjadi keganasan CIN dankanker serviks dengan kecepatan kejadian yang relatif antara jenisHPV lainnya. HPV 16 paling sering menyerang penderita kankerserviks yaitu sebesar 57% di di dunia, diikuti HPV 18, 58, 33, 45, 31,52, dan lain seperti variasi intratype sejenis dan viral loadinfeksi jumlah virus dalam darah dapat mempengaruhi variasi risikokanker. Varian molekuler intratype HPV dilihat dari urutan DNA antardua wilayah L1 pada virus berbeda kurang dari 2%. Pada infeksi HPV16 terdapat lebih dari 40 varian molekuler yang berbeda dan telahdikelompokkan secara filogenetik menurut wilayah geografis menjadivarian Eropa, Asia, Asia-Amerika dan Afrika. Varian molekuler non-Eropa dari HPV 16 dan HPV 18 terbukti meningkatkan risikoinfeksi persisten dan CIN dibandingkan dengan varian Eropa. Varianspesifik baru bersifat stabil dan muncul pada galur HPV yangberhubungan dengan perubahan polimorfisme genom variasi genetikdalam satu populasi. Berdasarkan tingkat viral loadnya,proporsi/eksposur HPV khususnya HPV 16 dan HPV 18 yang tinggipada seorang wanita akan berisiko lebih besar terjadi persisten virusyang dapat menyebabkan lesi derajat rendah dan tinggi. Sebaliknyajika HPV risiko tinggi jenis lainnya akan berkurang pada CIN III dankanker yang di tes dengan hasil positif HPV 16 sebanyak duakali setelah interval 9-12 bulan akan memiliki insiden kumulatif tigatahun CIN II atau lebih buruk sebesar 40%. Insiden kumulatif HPV 18yaitu 16% paling sering terjadi di dunia, sedangkan HPV risiko tinggilainnya sebesar 8,5%. Vaksinasi mampu mencegah infeksi HPV 16 dan18 sekitar 75% agar tidak menjadi kanker serviks dan mengurangi 60%terjadinya lesi derajat tinggi dibarengi pengobatan saat terdeteksiselama skrining American Cancer Society, 2018..2. Faktor hostFaktor genetik host seperti polimorfisme genetik dalam sistemkompleks histokompatibilitas yang memediasi respon imun terhadapantigen mikroba, terbukti berperan atas kejadian kanker serviks. Aleldan haplotipe tertentu dari gen Human Leukocyte Antigen HLAmempengaruhi perkembangan penyakit serviks. Status imunitas berupaimunodefisiensi dan sistem imun yang lemah seperti orang yang hidupdengan HIV lebih mungkin terinfeksi HPV persisten danperkembangannya lebih cepat menjadi prakanker dan Perilaku & gaya hidupPerilaku berperan pada perolehan infeksi HPV seperti tingkatpembersihan HPV dengan terjadinya persistensi infeksi yangdiperparah karena perilaku dan gaya hidup yang tidak baik, danperkembangan akhir ke kanker serviks invasif. Berikut ini beberapaperilaku dan gaya hidup yang berisiko lemah dapat mempengaruhiperkembangan kanker serviks a. Infeksi menular seksual lainnyaKoinfeksi dengan agen menular seksual seperti adanyavirus herpes simpleks HSV tipe 2, Chlamydia trachomatisdan HIV dapat mendukung perkembangan penyakit HSV-2 dan klamidia mempengaruhi penyakit serviksdengan menginduksi peradangan lokal di serviks, sehinggamemungkinkan HPV lebih mudah masuk ke lapisan basal epitelserviks. Pada studi kasus-kontrol menyebutkan di antara wanitaHPV-positif dengan HSV-2 dan klamidia terbuktimeningkatkan risiko kanker serviks invasif. Meskipun tidakterlihat pada infeksi klamidia, infeksi HSV-2 dapatmeningkatkan risiko hubungan HIV/AIDS dengan kanker serviksmenyebutkan risiko terjadinya kanker serviks invasif akanmeningkat secara signifikan pada perempuan yang terinfeksiHIV dibandingkan dengan perempuan HIV-negatif. Sebagianbesar wanita yang terinfeksi HIV pasti memiliki koinfeksidengan HPV. Perubahan imunitas pada wanita yang terinfeksiHIV menyebabkan mereka menjadi lebih rentan terhadapinfeksi HPV dan kemungkinan reaktivasi infeksi HPV latentidak terlihat namun berpotensi menjadi kanker.b. ParitasMultiparitas telah terbukti menjadi faktor risiko kankerserviks invasif di antara wanita HPV-positif menurutInternational Agency for Research on Cancer IARC danInternational Collaborative Study of Cervical CancerEpidemiology. Asosiasi berupa hubungan perubahan faktorhormonal dan fisik dengan aktivitas melahirkan anak yangterbukti mampu mempengaruhi zona transformasi studi IARC, wanita dengan lebih dari tujuh kalikehamilan cukup bulan memiliki kemungkinan 3,8 kali lebihbesar didiagnosis karsinoma sel skuamosa daripada wanitanulipara belum pernah melahirkan bayi yang dapat hidup kedunia. Selain itu, risiko kanker serviks akan meningkat 10% bagi setiap tambahan kehamilan penuh, kemudian wanita yangmengalami hubungan seksual pertama dan kehamilan pertamapada usia muda, serta jarak kehamilan yang berdekatan jugaberisiko mengalami kanker serviks 19. Tampilan Serviks Selama Hidup WanitaSumber WHO, 2014Pada wanita, selama pubertas dan kehamilan bagianzona transformasi pada ektoserviksnya akan membesar. Situasitersebut dapat memfasilitasi infeksi atau paparan HPV saatberhubungan dengan sel skuamosa dan aktivitas seksual diniatau melahirkan pertama di usia muda. Terdapat kemungkinanterjadinya penurunan insiden kanker serviks selama beberapadekade di negara-negara Barat dipengaruhi oleh penurunantingkat kesuburan WHO, 2014.c. Kontrasepsi oralPenggunaan kontrasepsi oral jangka panjang pil KBterbukti meningkatkan risiko kanker serviks invasif dandiklasifikasikan oleh IARC sebagai karsinogenik, terutamapada serviks. Asosiasi berupa independen tidak terikat dari aktivitas seksual, melainkan risiko meningkat berhubungandengan durasi penggunaan kontrasepsi oral. Risiko kankerserviks dua kali lebih besar terjadi saat menggunakankontrasepsi oral selama lebih dari 5 tahun. Namun, risiko dapatmenurun jika penggunaan kontrasepsi oral dihentikan, dansetelah 10 tahun risiko relatif berada pada tingkat yang samadengan yang tidak pernah menggunakan. Peran kontrasepsi oraldalam perkembangan kanker serviks invasif berhubungandengan hormonal yang mampu mendorong sel yang terinfeksiHPV untuk berkembang menjadi kanker serviks beberapa penelitian juga menyebutkan bahwapenggunaan kontrasepsi oral adalah risiko kontrasepsi ini efektif untuk mencegah kehamilanyang tidak direncanakan dan tidak diinginkan, yang manauntuk mencegah konsekuensi morbiditas dan kematiankehamilan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan potensiyang sangat kecil bagi peningkatan risiko kanker hal ini, yang terpenting adalah setiap wanita yang sudahaktif bereproduksi melakukan skrining kanker serviks MerokokRokok telah terbukti meningkatkan risiko wanita untukkanker serviks invasif, namun mekanisme terjadinya belumsepenuhnya dipahami. Efek merokok menjadi hulu dalampembentukan infeksi HPV yang persisten, dan menjadi hilirkarena karsinogen tembakau memberikan efek langsung bagiperubahan mutasi pada sel yang sudah terinfeksi HPV. Sebuahtinjauan dari 23 studi tentang merokok dan risiko kankerserviks invasif menyebutkan perokok memiliki peningkatanrisiko karsinoma sel squamosa, tetapi tidak perokok, risiko karsinoma sel squamosa meningkat sesuaidengan jumlah rokok yang dihisap per hari dan waktu sejakmulai merokok awal sampai saat ini. Mantan perokok jugamemiliki peningkatan risiko tetapi pada tingkat yang lebihrendah daripada perokok saat ini. e. DietFaktor makanan untuk pencegahan atau perkembanganpenyakit serviks belum terbukti pasti. Namun dari 22 penelitianyang berbeda menunjukkan efek diet kaya buah dan sayuranmemiliki pengaruh terhadap lesi prakanker serviks. Perluadanya pemberian wawasan mengenai kebiasaan mengonsumsinutrisi, vitamin, dan Jumlah pasangan seksualPerilaku yang memiliki banyak pasangan dapatmeningkatkan risiko infeksi HPV pada pasangan. Penularanterjadi jika pasangan yang satunya telah terinfeksi HPV, makapasangan lainnya akan tertular infeksi virus ini, kemudian akanditularkan pada pasangan selanjutnya saat berhubungan denganorang yang telah terinfeksi American Cancer Society 2020, terdapat faktor risiko yangtidak dapat diubah meliputi1. Diethylstilbestrol DESDES merupakan obat hormonal yang diberikan pada wanita ditahun 1938 dan 1971 untuk mencegah keguguran. Wanita yangmenggunakan DES ketika hamil berisiko terjadi perkembanganadenokarsinoma pada vagina atau serviks. Jenis kanker ini sangatjarang terjadi pada wanita yang belum pernah terpapar DES. Terdapatsekitar 1 kasus adenokarsinoma vagina atau serviks pada setiap yang ibunya menggunakan DES selama kehamilan atau sekitar99,9% anak dari wanita DES tidak akan berkembang kanker DES lebih sering terjadi di vagina daripada paling besar terjadi pada wanita yang menggunakan obat DESselama 16 minggu pertama kehamilan mereka. Sejak penggunaan DESselama kehamilan dihentikan oleh FDA pada tahun 1971, wanita yangpernah mengonsumsi DES akan berisiko tinggi terkena kanker padausia lebih dari 40 tahun. Anak wanita DES juga berisiko lebih tinggiterkena kanker sel skuamosa dan prakanker serviks yang terkait Memiliki riwayat keluarga kanker serviks Kanker serviks dapat terjadi pada beberapa keluarga. Dalam halini, jika terdapat keluarga yang menderita kanker serviks, peluanguntuk terkena penyakit ini lebih tinggi daripada tidak ada anggotakeluarga yang mengidapnya. Menurut studi, kejadian langka riwayatkeluarga menurunkan ke keturunannya disebabkan karena kondisibawaan yang membuat beberapa wanita kurang mampu melawan HPVatau karena adanya risiko non-genetik yang mendukung Faktor lainnya yaitu umur khususnya berisiko pada wanita yangberusia 15-54 tahun atau sudah aktif secara seksual dan Upaya Preventif Kanker ServiksUpaya preventif untuk kanker serviks sama dengan penyakit lain yangterdiri tiga tingkatan pencegahan, yaitu primer, sekunder, dan tersier. Upayapreventif primer terdiri dari promosi kesehatan dan perlindungan kesehatan dilakukan dengan melakukan edukasi terkait pola hidupsehat berupa perilaku CERDIK dan memberikan penjelasan mengenai perilakuseksual yang dapat meningkatkan risiko untuk terinfeksi Human PapillomaVirus HPV kepada masyarakat. Perilaku seksual yang berisiko sepertiberganti-ganti pasangan seksual dan melakukan hubungan seksual di bawahusia 20 tahun. Lalu untuk perlindungan khusus dengan pemberian vaksinasiHPV pada anak perempuan yang dimulai dari usia > 9 tahun. Terdapat 2 jenisvaksin yang digunakan untuk vaksinasi HPV, yaitu vaksin bivalen tipe 16 dan18 dan vaksin quadrivalent tipe 6, 11, 16 dan 18.Selanjutnya, upaya preventif sekunder yang terdiri dari deteksi dini danpengobatan segera. Deteksi dini untuk kanker serviks yang umumnyadigunakan adalah Inspeksi Visual dengan Asam Asetat IVA atau Pap dini dilakukan agar dapat membedakan masyarakat yang sakit diantara mereka yang sehat. Sehingga selain pelaksanaan deteksi dini, juga perludilakukan edukasi pentingnya deteksi dini untuk meningkatkan kesadaranmasyarakat. Kemudian jika deteksi dini telah dilakukan, maka tahapselanjutnya adalah pemberian pengobatan segera bagi individu yang hasil tesIVAnya positif. Jika ditemukan hasil tes IVA positif, maka akan dilakukanpemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan pengobatan apa yang tepat untuk diberikan. Bila saat seorang perempuan diketahui terinfeksi HPV masih padatahap awal atau ditemukan lesi pra kanker. Terdapat beberapa pilihanpengobatan yang dapat diberikan seperti Loop Electrosurgical ExcisionProcedure LEEP dan krioterapi. Pada pengobatan tersebut, lesi pra kankerakan diangkat agar tidak berkembang dan semakin ganas. Jika saat diketahuiterinfeksi HPV dan sudah memasuki stadium lanjut. Maka pengobatan yangdapat dipilih, yaitu terapi radiasi dan kemoterapi. Namun kembali lagi,pengobatan yang diberikan akan disesuaikan oleh kondisi dari pasien terdapat upaya preventif tersier yang meliputi pembatasankecacatan dan rehabilitasi. Untuk membatasi kecacatan dan komplikasi darikanker serviks, maka pengobatan seperti terapi radiasi dan kemoterapi tetapharus dilakukan hingga tubuh bersih dari sel kanker. Setelah pengobatankanker serviks dilakukan, dapat menyebabkan gangguan fisiologis danpsikologis. Serta hal tersebut dapat menghambat seseorang untuk kembaliberaktivitas. Sehingga perlu dilakukan upaya rehabilitasi agar individutersebut dapat beraktivitas kembali secara normal. Upaya rehabilitasi yangdilakukan meliputi rehabilitasi medik dan juga psikologi. Rehabilitasi medikmeliputi edukasi penerapan pola makan dan pola hidup yang sehat, lebihberhati-hati saat beraktivitas karena mungkin terjadi metastasis pada tulangatau penggunaan alat fiksasi eksternal, dan juga kontrol rutin ke dokter. Selaintiga upaya pencegahan diatas, terdapat pula pelayanan paliatif merupakan kondisi dokter tidak dapat berbuatapa-apa untuk mengobati kanker penderita sehingga perawatan akan berfokuspada pengendalian gejala dan membantu penderita merasa senyamanmungkin. Pelayanan paliatif dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup daripasien kanker. Pelayanan paliatif dapat dimulai sejak awal pasien didiagnosiskanker serviks. Dengan kata lain, pelayanan paliatif sudah dilaksanakan sejakpencegahan sekunder dimulai. Pelayanan paliatif dan pencegahan sekunderdilakukan bersamaan agar penyakit dapat sembuh dan kualitas hidup pasienjuga meningkat. Pada layanan ini tidak hanya gejala-gejala dari kanker servikssaja yang diobati tetapi juga memberikan dukungan psikologis dan semangatkepada pasien, dukungan sosial, serta dukungan spiritual untuk penderita dankeluarganya. Pada perawatan paliatif untuk terminal pada stadium akhirkanker dapat dirawat di rumah sakit ataupun rumah. 3. Programa. Struktur Organisasi Kementerian KesehatanKementerian kesehatan mempunyai tugas penting, yaitu untukmembantu presiden melaksanakan urusan pemerintahan dalam bidangkesehatan. Sehingga, kementerian kesehatan dalam menjalankan tugasnya pundibantu oleh 5 direktorat jenderal. Direktorat jenderal yang terdapat dikementerian kesehatan, yaitu Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat,Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, DirektoratJenderal Pelayanan Kesehatan, Direktorat Jenderal Kefarmasian dan AlatKesehatan, dan Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan. Sebelumnyakementerian kesehatan hanya terdiri dari 4 direktorat. Kemudian, Presidenmengeluarkan Perpres Nomor 18 Tahun 2021 dan menambahkan 1 direktoratlagi, yaitu Direktorat Jenderal Tenaga Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian PenyakitDitjen P2P dibagi menjadi 5 direktorat lagi, yaitu Direktorat Surveilans danKarantina Kesehatan, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian PenyakitMenular Langsung, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian PenyakitMenular Tular Vektor dan Zoonotik, Direktorat Pencegahan dan PengendalianPenyakit Tidak Menular dan Direktorat Pencegahan danPengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza. Dengan Direktorat P2PTMterdiri dari 5 substansi lagi yang salah satunya ada Substansi Pencegahan danPengendalian Penyakit Kanker dan Kelainan Darah. Substansi ini dibagi lagimenjadi Substansi Penyakit Kanker dan Substansi Kelainan Darah. Olehkarena itu. program pencegahan dan pengendalian kanker serviks merupakantanggung jawab dari Substansi Penyakit Kanker. Gambar 20. Struktur Organisasi Kementerian KesehatanSumber Kementerian Kesehatan 2022Gambar 21. Struktur Organisasi Kementerian KesehatanSumber Kementerian Kesehatan 2022b. Visi dan Misi Kementerian KesehatanVisi dan Misi Kementerian Kesehatan tahun 2020-2024 mengacu padaVisi dan Misi Presiden RI tahun 2020-2024 dalam bidang kesehatan, yaituVisi Menciptakan Manusia yang Sehat, Produktif, Mandiri, dan Berkeadilan Misia. Menurunkan angka kematian ibu dan bayib. Menurunkan angka stunting pada balitac. Memperbaiki pengelolaan Jaminan Kesehatan Nasionald. Meningkatkan kemandirian dan penggunaan produk farmasi dan alatkesehatan dalam negeriKementerian Kesehatan RI memiliki beberapa direktorat, salah satunyaadalah Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak MenularP2PTM. Direktorat P2PTM memiliki visi dan misi yang mengikuti visi misiPresiden Republik Indonesia, yaitu sebagai berikutVisi Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan BerkepribadianBerlandaskan Mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju, P2PTM kemudian dibagi lagi menjadi beberapa subdit,salah satunya adalah Subdit Penyakit Kanker dan Kelainan Darah PKKD.Subdit PKKD mempunyai beberapa tugas, yaitua. Melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakanb. Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteriac. Pemberian bimbingan teknis dan supervisid. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan danpengendalian penyakit kanker dan kelainan PKKD juga memiliki beberapa fungsi, yaitua. Penyiapan bahan perumusan kebijakan di bidang pencegahan danpengendalian penyakit kanker dan kelainan darahb. Penyiapan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang pencegahan danpengendalian penyakit kanker dan kelainan darahc. Penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria dibidang pencegahan dan pengendalian penyakit kanker dan kelainandarahd. Penyiapan bahan bimbingan teknis dan supervisi di bidang pencegahandan pengendalian penyakit kanker dan kelainan darahe. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan danpengendalian penyakit kanker dan kelainan darah. c. Tujuan Kementerian Kesehatani. Tujuan Kementerian KesehatanKementerian kesehatan dalam menjalankan pembangunankesehatan nasional mengacu pada rencana strategis yang telah diaturdidalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 21 Tahun 2020 tentangRencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun didalamnya mengenai tujuan prioritas RPJMN dan tujuanstrategis dari kementerian kesehatan. Berikut ini penjelasannyaGambar 22. Peta Konsep Tujuan Kementerian KesehatanSumber Kementerian Kesehatan RI, 20201. Tujuan prioritas RPJMNTujuan prioritas didasarkan pada potensi danpermasalahan yang masih menjadi tantangan bangsa untukdiselesaikan dan membutuhkan perhatian dari seluruhkomponen bangsa agar mampu meningkatkan status kesehatanmasyarakat. Beberapa tujuan prioritas RPJMN meliputia. Peningkatan KIA, KB, dan kesehatan reproduksib. Perbaikan gizi masyarakatc. Pembudayaan GERMASd. Peningkatan pengendalian penyakit e. Penguatan sistem kesehatan dan pengawasan obat danmakanan meliputi●Penguatan pelayanan kesehatan dasar danrujukan●Pemenuhan dan peningkatan kompetensi tenagakesehatan●Pemenuhan dan peningkatan daya saing sediaanfarmasi dan alat kesehatan●Peningkatan efektivitas pengawasan obat danmakanan●Penguatan tata kelola, pembiayaan, penelitian,dan pengembangan Tujuan strategis kementerian kesehatanTujuan strategis bertujuan untuk mewujudkan 9 misipresiden tahun 2020-2024 dengan lima tujuan meliputia. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat melaluipendekatan siklus hidup,b. Penguatan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan,c. Peningkatan pencegahan dan pengendalian penyakitdan pengelolaan kedaruratan kesehatanmasyarakat,d. Peningkatan sumber daya kesehatan,e. Peningkatan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih,dan rangka mencapai lima tujuan strategis kementeriankesehatan ditetapkan 8 sasaran strategi meliputiPeningkatan derajatkesehatan masyarakatmelalui pendekatansiklus hidupMeningkatnya kesehatan ibu,anak, dan gizi masyarakatPenguatan pelayanankesehatan dasar danrujukanMeningkatnya ketersediaan danmutu fasyankes dasar danrujukan Peningkatanpencegahan danpengendalianpenyakit danpengelolaankedaruratankesehatanmasyarakatMeningkatnya pencegahandan pengendalian penyakitserta pengelolaankedaruratan kesehatanmasyarakatPeningkatan sumberdaya kesehatanMeningkatnya akses,kemandirian, dan alatkesehatanMeningkatnya pemenuhanSDM kesehatan dankompetensi sesuai standarTerjaminnya pembiayaankesehatanPeningkatan tata kelolapemerintahan yangbaik, bersih, daninovatifMeningkatnya sinergisme pusatdan daerah serta meningkatnyatata kelola pemerintahan yangbaik dan bersihMeningkatnya efektivitaspengelolaan litbangkes dansistem informasi kesehatanuntuk pengambilan keputusanTabel 2. Tujuan dan Sasaran Strategis Kementerian KesehatanSumber Kementerian Kesehatan RI, 2020ii. Tujuan P2PTMTujuan P2PTM yaitu terselenggaranya pencegahan danpengendalian penyakit tidak menular secara berhasil guna dan berdayaguna dalam mendukung pencapaian derajat kesehatan masyarakat yangsetinggi-tingginya 100%. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RINo. 34 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Kanker Payudara danKanker Leher Rahim, pelaksanaan program penanggulangan kankerpayudara dan kanker leher rahim memiliki tujuan umum dan tujuankhusus yang ingin dicapai meliputia. Tujuan umumMenurunkan angka kesakitan dan kematian akibat kankerpayudara dan kanker leher rahim. b. Tujuan khusus1. Mensosialisasikan program deteksi dini kankerpayudara dan kanker leher Meningkatkan akses deteksi dini kanker payudara dankanker leher Meningkatkan cakupan deteksi dini kanker payudaradan kanker leher Meningkatkan penemuan kasus lesi pra kanker Meningkatkan penemuan suspek kanker Meningkatkan penemuan dini kanker Menurunkan angka kejadian kanker leher Menurunkan angka kesakitan kanker Menurunkan angka kematian akibat kanker payudaradan kanker leher hasil wawancara yang kami dapatkan darikementerian kesehatan Subdit P2 Penyakit Kanker dan Kelainan DarahPKKD menyebutkan tujuan dari penanggulangan pengendaliankanker serviks berkaitan dengan dampak yang diharapkan yaitua. Tujuan jangka panjang atau outcome berupa meningkatnyakesintasan survival rate/tingkat kelangsungan hidupindividu/populasi dibuktikan dengan adanya penurunan angkakematian dan kesakitan mortalitas dan morbiditas akibatkanker Tujuan jangka pendek, yaitu usaha yang dilakukan untukmencapai tujuan jangka panjang. Output yang diharapkanminimal 80% individu sudah melakukan deteksi dini minimaldalam 3 tahun sekali. Dengan begitu, harapannya mampumenurunkan jumlah kasus kanker serviks. Upayapenanggulangan kanker serviks diantaranya seperti deteksi dinidengan sasaran program adalah setiap perempuan usia 30-50tahun yang sudah aktif secara seksual, pencegahan kankerserviks lebih awal dengan imunisasi/vaksin HPV pada anak usia 5-6 tahun atau dalam usia sekolah dasar, kemudianpromosi kesehatan lebih yang dilakukan untuk penanggulangan kanker servikstelah tertuang di dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 71 tahun2015 tentang Penanggulangan Penyakit Tidak Menular yaitu terdapatempat pendekatan yang digunakan seperti promosi kesehatan,perlindungan khusus, deteksi dini, dan pengobatan dengan targetnyamasing-masing sesuai dengan standar. Berdasarkan semua pendekatantersebut, akan didapatkan tujuan akhir yang diharapkan yaitumenurunkan kematian dan kesakitan pada penderita Strategi Program Pengendalian Kanker ServiksDalam menjalankan program pengendalian kanker serviks,Kementerian Kesehatan menerapkan beberapa strategi. Strategi yang pertamaadalah dengan menjalankan 4 pilar program meliputi upaya promotif danpreventif, deteksi dini, perlindungan khusus, dan tatalaksana selanjutnya adalah dengan menjalin kemitraan dengan organisasiprofesi, LSM dan juga dari perusahaan. Organisasi profesi sepertiPerkumpulan Obstetri Dan Ginekologi Indonesia POGI juga melakukankerja sama dengan memberikan masukan untuk kebijakan dari riset yangmereka lakukan. POGI juga melakukan pembinaan dan pengawasan teknismedis dari deteksi dini kanker serviks. LSM yang menjalin kerja sama denganKemenkes seperti Yayasan Kanker Indonesia YKI, Cancer InformationSupport Center CISC serta PKK. LSM yang telah disebutkan sebelumnyamerupakan penyambung tangan antara pemerintah dan masyarakat untukmeningkatkan partisipasi masyarakat dalam program deteksi dini. Untukperusahaan contohnya PT. Kao Indonesia yang juga membantu dalam upayapromosi yang lainnya adalah dengan memanfaatkan perkembanganteknologi yang ada saat ini untuk melakukan campaign. Campaign dilakukandalam bentuk webinar atau penyebarluasan poster-poster pada media sosialdan juga website Kemenkes. Strategi berikutnya adalah dengan melakukanintegrasi program deteksi dini dengan program IMS dan juga KB. InfeksiMenular Seksual atau IMS memiliki faktor risiko yang sama dengan kanker serviks, yaitu berganti-ganti pasangan seksual. Sehingga mereka yangmelakukan pemeriksaan atau pengobatan IMS juga dapat dianjurkan untukmelakukan pemeriksaan IVA atau pap smear. Begitu juga pada program KB,setiap mereka yang melakukan konseling KB juga dapat dianjurkan untukmelakukan pemeriksaan IVA atau pap smear. Hal ini dilakukan sebagai upayauntuk meningkatkan cakupan deteksi dini dari kanker Pelaksanaan Program Pengendalian Kanker Serviksi. Promotif dan PreventifBerdasarkan hasil wawancara, pihak Kemenkes menyatakanbahwa upaya promotif dan preventif untuk mengendalikan kankerserviks perlu dilakukan digitalisasi. Sebab, hampir kebanyakanmasyarakat sudah terpapar oleh media sosial. Oleh karena itu,Kemenkes seringkali melakukan promosi kesehatan berupa publikasiartikel, infografis, webinar, perayaan hari kanker, dan sosialisasikepada kader kesehatan. Kemenkes juga berkolaborasi denganorganisasi lain, mulai dari organisasi profesi seperti PerkumpulanObstetri dan Ginekologi Indonesia POGI, Yayasan Kanker IndonesiaYKI, Cancer Information and Support Center CISC, KoalisiIndonesia Cegah Kanker Serviks KICKS, dan PemberdayaanKesejahteraan Keluarga PKK. Bentuk kerjasama Kemenkes denganorganisasi profesi dapat berupa pemberian masukan untuk kebijakandari riset dan pembinaan kepada anggota POGI dalam pelaksanaanskrining kanker serviks. Selain itu, bentuk kerja sama denganorganisasi lainnya dapat berupa penyebaran informasi dan edukasi kemasyarakat. Kemenkes juga seringkali melakukan pelatihan terkaitdeteksi dini kanker serviks dan kanker payudara kepada kader-kaderkesehatan. Berikut merupakan contoh promosi kesehatan yangdilakukan. Gambar 23. Artikel Promosi KesehatanSumber Kementerian Kesehatan RI, 2022Pada artikel tersebut, Kemenkes memberikan informasi terkaitpemberian imunisasi rutin pada anak yang disertai dengan penjelasanmengapa seorang anak harus melakukan vaksinasi HPV, yakni untukmencegah kejadian kasus kanker serviks dan mengurangi tingkatkematian. Selain itu, Kemenkes juga menjelaskan bahwa vaksinasimerupakan intervensi kesehatan yang lebih efektif daripada intervensiketika seseorang sudah masuk perawatan 24. Infografis Kanker ServiksSumber Kementerian Kesehatan RI, 2019 Berikut merupakan contoh infografis yang dipublikasikan olehKemenkes. Infografis tersebut menjelaskan informasi terkait deteksidini kanker serviks, dimulai dari metode, tujuan, penjelasan singkatlainnya, dan disertai dengan ilustrasi yang 25. Seminar terkait Deteksi Dini Kanker Serviks dan PayudaraSumber Kementerian Kesehatan RI, 2020Berikut merupakan salah satu kegiatan yang dapat memberikaninformasi terkait deteksi dini kanker serviks dan kanker payudara,yaitu melalui webinar. Webinar ini dilaksanakan bersama dengan mitradari Kemenkes, seperti Yayasan Kanker Indonesia YKI, Himpunan Onkologi dan Ginekologi Indonesia HOGI, serta pimpinan instansikesehatan 26. Rangkaian Kegiatan Hari Kanker Sedunia 2022Sumber Kementerian Kesehatan RI, 2022Peringatan Hari Kanker Sedunia bertujuan untuk meningkatkanperan serta dan komitmen bersama dalam pengendalian kanker,terutama kanker serviks dan payudara. Terdapat banyak sekali kegiatanyang dilakukan untuk melakukan promosi kesehatan dalam HKS 2022, seperti lomba tiktok, webinar, pelatihan, workshop,online campaign,dan masih banyak lainnya. Rangkaian kegiatan ini juga bekerja samadengan mitra dari Kemenkes, seperti Yayasan Kanker Indonesia YKI,Koalisi Indonesia Cegah Kanker Serviks KICKS, Cancer Informationand Support Center CISC, dan Perlindungan KhususPerlindungan khusus yang banyak dilakukan dalam mencegahkanker serviks adalah vaksinasi HPV. Pada tahun 2022, KementerianKesehatan menambahkan tiga jenis vaksin pada imunisasi rutin untukanak, yakni vaksin HPV, vaksin rotavirus, dan PCV PneumococcalConjugate Vaccine. Vaksin HPV ditujukan untuk anak perempuankelas 5 dan 6 SD, karena vaksin ini dianggap paling efektif jikadiberikan kepada anak perempuan saat berusia 9-13 tahun. Saat ini,vaksin HPV mulai diberikan di 131 kabupaten/kota di 8 provinsi tersebut yaitu DKI Jakarta, DI Yogyakarta, JawaTengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo,dan Bali. Program ini direncanakan untuk dilakukan di seluruhkabupaten/kota pada pelaksanaan vaksinasi HPV di tahun ini juga memilikisedikit kendala. Sebab, tidak semua orang tua mengizinkan anaknyauntuk divaksinasi. Terdapat masyarakat yang berpendapat kalauanaknya tidak perlu untuk diberikan vaksin HPV, karena belum pernahmelakukan hubungan seksual. Padahal, pemberian vaksin HPV ketikasudah pernah melakukan hubungan seksual akan menurunkanefektivitas vaksin tersebut, karena ada kemungkinan HPV sudah lebihdulu masuk ke dalam Deteksi DiniCakupan deteksi dini kanker serviks di Indonesia masih sangatjauh dari target. Kementerian Kesehatan memiliki target minimal 80%perempuan berusia 30-50 tahun melakukan deteksi dini minimal 3tahun sekali. Namun, dalam pelaksanaannya, dalam 3 tahun terakhir inibaru terdapat 6% perempuan berusia 30-50 tahun yang melakukandeteksi dini. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang diungkapkan oleh pihakP2PTM Kemenkes RI. Dalam wawancara yang kami lakukan, pihakP2PTM mengungkapkan bahwa tantangan yang paling berat dalampengendalian kasus kanker serviks adalah kesadaran dari masyarakatyang masih kurang untuk melakukan deteksi dini. Banyak masyarakatyang merasa takut, kurang nyaman, atau bahkan merasa dirinya itusudah sehat, sehingga tidak perlu melakukan deteksi dini. Selain itu,perlu memperhatikan kecukupan dari supply, baik dari tenagakesehatan, alat pemeriksaan, pendanaan, dan lain Tatalaksana PengobatanGambar 27. Jenis Pengobatan Kanker di Indonesia Tahun 2018Sumber Litbangkes RI, 2019Berdasarkan data dari Kemenkes 2019, jenis pengobatankanker yang paling banyak dilakukan di Indonesia adalah tindakanoperatif atau pembedahan, penyinaran, dan kemoterapi. Upaya pengobatan harus dimulai sesegera mungkin agar kankerserviks tidak berkembang sampai ke stadium lanjut. Sebab, jika sudahmencapai stadium lanjut, maka dampak sosio-ekonomi, psikologi, danlain-lain menjadi lebih besar. Oleh karena itu, penting untukmelakukan tindakan pencegahan seperti melakukan vaksinasi dandeteksi dini. Selain itu, hal yang masih menjadi kendala saat ini adalahbelum adanya terapi yang dapat membasmi Target Program Pengendalian Kanker ServiksBerdasarkan rencana anggaran pelaksanaan RAP 2020-2024, secaranasional terdapat target yang ingin dicapai yaitu salah satunya jumlahkabupaten/kota yang melakukan deteksi dini penyakit kanker di ≥ 80%populasi usia 30-50 tahun Dirjen P2P, 2020. Berikut penjabarannyaPersentasepuskesmas yangmelaksanakandeteksi dinikanker payudaradan kanker leherrahim pada wanitausia 30-50 tahun35%Realisasi51% 3. Persentase Indikator Target Program Pengendalian Kanker ServiksSumber P2PTM Kementerian Kesehatan RI 2019, Ditjen P2P 2020Sasaran programoutcome/sasaran kegiatanoutput/indikatorKegiatanpencegahan danpengendalianPTMTujuanmenurunnyaangka kesakitandan kematianakibat PTM;meningkatnyaJumlahkabupaten/kotayang melakukandeteksi dinipenyakit kankerdi di ≥ 80%populasi usia30-50 pelaksanaDirektorat pencegahan danpenanggulanganPTMTabel 4. Target Program Pengendalian Kanker ServiksSumber Ditjen P2P 2020Sasaran programoutcome/sasarankegiatanoutput/indikatorKegiatanpencegahan danpengendalian PTMTujuanmenurunnya angkakesakitan dankematian akibatPTM; meningkatnyapencegahan danpenanggulanganPTMJumlahkabupaten/kotayang melakukandeteksi dinipenyakit kankerdi di ≥ 80%populasi usia30-50 tahunUnit pelaksanaDirektoratP2PTMTabel 5. Alokasi Program Pengendalian Kanker ServiksSumber Ditjen P2P 2020Kab/kota yang menyelenggarakan deteksi dini kanker payudara dankanker serviks minimal sebesar 80% dari populasi wanita usia 30-59 tahunatau wanita yang aktif secara seksual. Sumber data cakupan dapat ditemukanmelalui sistem informasi PTM, pencatatan, dan pelaporan program. Dalamprofil kesehatan tahun 2020, terdapat persentase pemeriksaan deteksi dinikanker lahir IVA dan payudara tahun 2018-2020 di Indonesia Gambar 28. Gambar 28. Persentase Pemeriksaan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim IVASumber Kementerian Kesehatan RI 2020Berdasarkan gambar 28, sebanyak 8,3% wanita usia 30-50 tahun telahmenjalani deteksi dini kanker leher rahim IVA dan sadanis. Cakupan deteksidini tertinggi yaitu di Kep. Bangka belitung sebesar 37,6%, sedangkancakupan terendah ada di Papua sebesar 0,6%. Selanjutnya, data terkait hasilpemeriksaan dini kanker leher rahim pada perempuan usia 30-50 tahun diIndonesia tahun 2018-2020 Gambar 29Gambar 29. Hasil Pemeriksaan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim PadaPerempuan Usia 30-50 tahun di IndonesiaSumber Kementerian Kesehatan RI 2020 Gambar 29, menunjukkan sampai dengan tahun 2020 dari hasilpemeriksaan IVA terdapat IVA positif dan curiga kanker hasil wawancara, dalam pencapaian tujuan yangdiharapkan harus ada keseimbangan antara supply dengan demand input.Misalnya supply berupa ketersediaan akses yang harus disesuaikan dengandemandnya berupa kebutuhan kelompok terhadap akses. Secara nasional,pemerintah telah membentuk dan mengembangkan program untukpenanggulangan kanker serviks di Indonesia. Namun, masih terdapattantangan yang dihadapi dalam pelaksanaannya diantaranya1. Deteksi dini sudah diupayakan di dalam masyarakat, tetapi cakupannyamasih jauh dari cakupan deteksi dini masyarakat selama 3 tahun sekalidiharapkan sebesar 80%, namun berdasarkan cakupan 3 tahun terakhirini masih sekitar 6%. Terdapat beberapa kemungkinan program yangperlu dievaluasi untuk ditingkatkan seperti promosi, supply input,demand kebutuhan, dan Kurangnya kesadaran masyarakatTerdapat perbedaan antara individu yang sakit dan sehat. Bagi individuyang sakit, mereka akan datang ke pelayanan kesehatan untukmendapatkan pengobatan tanpa harus disuruh, sedangkan bagi individuyang sehat tidak mencari pelayanan kesehatan pelayanan preventifdan promotif karena merasa dirinya terlihat sehat. Dengan begitu,tugas ahli kesehatan masyarakat adalah meningkatkan edukasikesehatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Perlu adanyarasa saling percaya antara tenaga kesehatan dengan masyarakat, namunkembali lagi bahwa untuk menjadi orang yang dipercaya tidaklahmudah dan memerlukan proses saling belajar, pengenalan, sertamembangun bonding tidak hanya ilmu tetapi juga membangunhubungan antara diri sendiri dengan pemenuhan target, diperlukan kegiatan atau programpendukung yang nantinya hasilnya termasuk ke dalam cakupan deteksi dinikanker serviks. Capaian yang telah dihitung akan dilaporkan dari renstradalam bentuk output bukan pendukung yaitu cakupan deteksi dini. Namun secara keseluruhan kegiatan/program pendukung akan tetap dianalisis Alat Ukur yang DigunakanDalam mengukur keberhasilan dari program pengendalian kankerserviks, Kementerian Kesehatan mengukur dari segi output dan juga output yang diukur adalah cakupan dari deteksi dini pada kelompoksasaran, yaitu perempuan berusia 30-50 tahun. Kelompok sasaran tersebutsetidaknya harus menjalani deteksi dini atau skrining sebanyak satu kali dalamkurun waktu 3-5 tahun. Target dari Kementerian Kesehatan adalah sebanyak80% dari kelompok sasaran menjalani deteksi dini dari kanker serviks berupapemeriksaan IVA. Perhitungan cakupan deteksi dini juga dapatmenggambarkan kinerja dari pemerintah daerah kabupaten/kota. Dari hasilperhitungan tersebut perlu dianalisis sebab-sebab kunjungan perempuan untukmelakukan deteksi dini yang masih rendah dan kemudian menyusun strategiagar cakupan deteksi dini dapat meningkat. Untuk outcome yang diukuradalah prevalensi dan angka mortalitas dari kanker serviks yang diharapkanuntuk mengalami penurunan. Sehingga jika dari segi output mengalamipeningkatan, maka diharapkan dari segi outcome akan terjadi penurunan dankanker serviks di Indonesia dapat lebih terkendali. Berikut merupakan rumusyang digunakan untuk menghitung cakupan deteksi dini dan proporsi hasildeteksi dini kanker leher rahimGambar 29. Hasil Pemeriksaan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim PadaPerempuan Usia 30-50 tahun di IndonesiaSumber Kementerian Kesehatan RI 2020 h. Data SurveilansTerdapat sebuah sistem khusus bernama Sistem Informasi PenyakitTidak Menular SIPTM yang merupakan pusat penghimpunan data surveilansbagi penyakit tidak menular. SIPTM ini terintegrasi dengan sistem informasiyang ada di Kemenkes. Salah satu data yang terdapat di SIPTM adalah datamengenai kanker serviks. Data yang dihimpun di SIPTM berupa data agregatkumpulan data, bukan data kasar. Jadi, ketika kita melihat data tersebut, kitadapat mengetahui kejadian kanker paling banyak terjadi pada jenis kelaminapa, usia berapa, kebiasaannya seperti apa, dan juga memiliki beberapa fungsi, yaitu melakukanPengaturan, Pembinaan, dan Pengawasan Turbinwas. Sebelum pelaksanaansurveilans, Kemenkes akan melakukan advokasi dan sosialisasi kepada daerahsetempat terkait cara kerja SIPTM tersebut. Setelah itu, setiap daerah akanmelakukan pencatatan dan pelaporan penyakit di daerahnya Kemenkes juga akan melakukan pengecekan apakah data yangdikumpulkan sudah benar dan lengkap. Setelah data dirasa sudah lengkap,maka akan dilakukan analisis dan pengolahan data untuk menghasilkankesimpulan dan rekomendasi yang nantinya akan diberikan kepada 30. Surveilans SIPTMSumber Kementerian Kesehatan RI 2020 i. Evaluasi Program Pengendalian Kanker ServiksMenurut PMK No. 34 Tahun 2015 tentang Penanggulangan KankerPayudara dan Kanker Leher Rahim, dalam penemuan dan tatalaksana penyakitkanker menjadi bagian dari pengendalian kanker secara umum yang outputnyaberupa penurunan angka kesakitan dan kematian melalui kegiatan deteksi dini,skrining, diagnosis, terapi, dan perawatan paliatif. Pengukuran keseluruhanprogram dari perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan atau disebut denganmonitoring dan dilakukan sewaktu-waktu guna mengetahui kemajuanprogram dan kualitas pelayanan. Monitoring program dilaksanakan secaraberjenjang setiap bulanannya melalui lokmin bulanan ataupun lokmintriwulanan bersama kepala puskesmas, untuk selanjutnya berjenjanglaporannya ke dinas kesehatan kab/kota/provinsi. Pada monitoring kualitaspelayanan dilakukan berjenjang oleh dokter dan dokter spesialis spesialisobstetri dan ginekologi, serta dokter bedah di rumah sakit kab/kota/ indikator proses dan output program pencegahan kankerleher rahim bertujuan untuk memantau kualitas pelayanan, perencanaansumber daya, dan pengembangan yang tepat, serta pengawasan dengansurveilans berbasis IT direktorat PPTM. Logbook adalah instrumen yangdigunakan pada faskes yang menawarkan temuan dari monitoring akan ditindak lanjuti dengan adanyaevaluasi program/kegiatan terkait kesesuaian antara perencanaan denganindikator input, proses/pelaksanaannya, dan output. Evaluasi dilakukansebelum dan sesudah pelaksanaan kegiatan. Evaluasi sebelum kegiatandilakukan untuk melihat hasil yang telah dicapai pada tahun sebelumnya dandigunakan untuk perencanaan awal dengan hasil yang didapatkan di akhirkegiatan. Gambar 31. Surveilans SIPTMSumber Kementerian Kesehatan RI 2015Dari indikator input sampai dengan outcome berikut ini beberapa hasilpencarian terkait persentase capaian dari masing-masing upaya programpenanganan kanker serviks yang dilakukan Direktorat P2PTM di danpedoman1. Peraturan Menteri Kesehatan No. 71/2015tentang Penanggulangan PTM2. Permenkes RI No. 39 tahun 2016 tentangPIS-PK salah satunya terkait anggotakeluarga tidak ada yang merokok3. RPJMN 2015-2019 Perpres No. 2/2015PTM sebagai indikator nasional salah satunyaprevalensi merokok pada penduduk usia ≤18tahun4. Renstra 2015-2019 Kepmenkes RI No. Persentase puskesmas melaksanakanpengendalian PTM Persentase desa/kelurahan yangmelaksanakan Posbindu Persentase puskesmas melaksanakan kegiatan deteksi dini kanker payudara dankanker leher rahim pada pertemuan usia30-50 tahun5. Aturan khusus- PMK No. 34 Tahun 2015 tentangPenanggulangan Kanker Payudara danKanker Leher Rahim dengan perubahannyapada PMK No. 29 Tahun 2017.●Aplikasi SIDIK Serviks, Oncodoc, dansebagainya●SI Surveilans PTMSosialisasi PTM dan Akses Deteksi Dini186% desa/kelurahanCakupandeteksi dini→ layanankankerPenemuanlesi prakanker2018-2020Hasil pemeriksaan IVA 2018-2020, IVA positif dan curiga kanker dankematianDari 17,3 denganrete kematian8,2 per 4 padatahun 2030angkakejadian-globalDenganCapaian 90%anakperempuan divaksin HPVTabel 6. Capaian Input-OutcomeSumber Kementerian Kesehatan 2018Berdasarkan hasil wawancara, evaluasi program pengendalian kankerserviks dilakukan untuk melihat pencapaian apakah sudah sesuai dengan targetatau belum. Jika target belum tercapai, maka dievaluasi semua aspek yangmendukung tercapainya hasil akhir. Dengan hasil akhir yang ingin dicapaiadalah cakupan deteksi dini minimal 80% dari perempuan berusia 30-50 tahun melakukan deteksi minimal 3 tahun sekali. Jika target belum tercapai, makadilihat kegiatan apa saja yang mempengaruhi ketercapaian target kegiatan yang mempengaruhi hasil akhir akan dievaluasi baik kegiatanpromosi kesehatan, preventif, dan lain sebagainya apakah sudah sesuai dengantarget yang ditetapkan atau belum. Bila kegiatan-kegiatan tersebut belumterlaksana sesuai target, maka akan menurunkan capaian hasil akhir. Bagikegiatan yang sudah mencapai target maka harus dipertahankan dan untukkegiatan yang belum mencapai target harus ditingkatkan agar lebih baik kegiatan memiliki daya ungkit yang berbeda-beda terdapat hasil akhirsehingga kegiatan yang memiliki daya ungkit tinggi lebih diprioritaskan dalamperbaikan. Selain itu, setiap daerah memiliki permasalahan yang berbeda-bedadalam mencapai hasil akhir sehingga tiap daerah memiliki cara yangberbeda-beda untuk Apresiasi, Kritik, dan Sarani. ApresiasiKementerian Kesehatan telah melakukan upaya yang sangatbaik dalam mengendalikan kejadian kasus kanker serviks. Terdapatbeberapa apresiasi yang dapat kami berikan terkait upaya dariKementerian Dikembangkannya program vaksin HPV menjadi programimunisasi nasionalPada tahun ini, telah dilakukan upaya pencegahan yangsangat baik, yaitu program vaksinasi HPV yang menjadiprogram imunisasi rutin bagi anak perempuan kelas 5-6 program ini dapat berjalan dengan baik dan dapatmenjangkau seluruh Indonesia pada tahun Target deteksi dini pada puskesmas terus naik dari tahun ketahunPersentase target deteksi dini kanker serviks dan kankerpayudara di puskesmas terus meningkat, yakni 10% pada tahun2015, 15% pada tahun 2016, 25% pada tahun 2017, 35% padatahun 2018, 50% pada tahun 2019, dan 80% pada tahun2020-2024. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat optimisme yang tinggi dan upaya dari kemenkes untuk terus meningkatkancakupan dari deteksi dini dengan meningkatkan target Pelaksanaan promotif dan preventif sangat mengikutiperkembangan zamanKegiatan promosi kesehatan terkait kanker serviks yangdilakukan oleh Kementerian Kesehatan sudah ini sesuai dengan maraknya penggunaan media sosial Inovasi dengan membuat aplikasi OncoDocTelah dikembangkan sebuah aplikasi bernama OncoDocuntuk deteksi dini dan konsultasi. Penggunaan aplikasi ini jugabermitra dengan pihak Transparansi data sudah cukup baikTerdapat data absolut terkait jumlah kasus dan kematianakibat kanker serviks. Selain itu, juga terdapat angka incidencerate,prevalence rate, dan mortality rate dalam kejadian kankerserviks. Data terkait ketercapaian dan target puskesmas dalamdeteksi dini kanker serviks juga dapat diakses oleh Telah bekerjasama dengan mitraKementerian Kesehatan telah berkolaborasi dengan pihak laindalam pengendalian kasus kanker serviks. Mitra yang bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan antara lain PerkumpulanObstetri dan Ginekologi Indonesia POGI, Yayasan KankerIndonesia YKI, Cancer Information and Support CenterCISC, Koalisi Indonesia Cegah Kanker Serviks KICKS, danPemberdayaan Kesejahteraan Keluarga PKK.7. Telah terdapat peraturan menteri yang mengatur terkaitpenanggulangan kanker serviksTerdapat beberapa peraturan yang mengaturpengendalian kasus kanker serviks, seperti Peraturan MenteriKesehatan Nomor 34 Tahun 2015 tentang PenanggulanganKanker Payudara dan Kanker Leher Rahim dan PeraturanMenteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 71 tahun 2015 tentang Penanggulangan Penyakit Tidak KritikSetelah melakukan telaah pada program pengendalian kankerserviks yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, terdapatbeberapa kritik yang kami dapat sampaikan dan mungkin dapatmeningkatkan kualitas dari Belum meratanya cakupan deteksi dini pada setiap daerah diIndonesiaBerdasarkan data dari Kemenkes RI, 2020, dapat dilihatbahwa masih terdapat perbedaan yang cukup jauh padacakupan deteksi dini antara daerah-daerah di Indonesia. Selainitu secara keseluruhan cakupan deteksi dini di Indonesia jugamasih jauh dari target yang ditetapkan, yaitu sekitar 6%sedangkan targetnya adalah 80%. Sehingga harus segeradilakukan pemerataan cakupan deteksi dini. Pemerataan deteksidini dapat dimulai dengan pemerataan sarana dan prasarananyaseperti alat deteksi dini dan tenaga kesehatan yang Data yang tersedia pada internet masih kurang updateKementerian kesehatan selaku pelaksana programpengendalian kanker serviks sudah melakukan transparansi datadari program. Namun data yang tersedia pada internet dalamwebsite Kemenkes tidak dilakukan update secara data terbaru belum dapat diakses dan tidak dapatdilihat perkembangan dari program Vaksin HPV untuk orang dewasa belum dapat ditanggung olehBPJSKementerian kesehatan baru saja mengeluarkanprogram vaksinasi HPV wajib bagi anak perempuan kelas 5-6SD. Vaksinasi ini diberikan secara gratis pada kelompoksasaran. Program ini dilaksanakan bersamaan dengan programkegiatan Bulan Imunisasi Anak sekolah BIAS yangdilaksanakan pada bulan Agustus setiap tahunnya. Namununtuk perempuan yang tidak berada dalam kelompok usia tersebut, tidak mendapatkan vaksinasi HPV secara harus melakukan vaksinasi HPV secara mandiripada fasilitas kesehatan. Biaya vaksinasi HPV yang tersediapada fasilitas kesehatan memiliki rentang harga sekitar 2,8 jutaatau bahkan lebih. Sehingga masih banyak perempuan yangtidak melakukan vaksinasi HPV ini karena terhalang biayayang mahal. Oleh karena itu, pemerintah dan kemenkes harusdapat memberikan solusi atas permasalahan ini seperti denganbiaya pelaksanaan vaksinasi HPV dapat ditanggung oleh Tujuan khusus dari P2PTM dapat dilengkapiPada tujuan khusus P2PTM, alangkah baiknyaditambahkan satu poin lagi setelah poin 4. Dengan poin 4 daritujuan khusus berupa “Meningkatkan penemuan kasus lesi prakanker leher rahim”. Sehingga harus ditambahkan 1 tujuankhusus lagi, yaitu dengan meningkatkan tatalaksanapengobatan yang tepat dari pasien yang mendapatkan hasilpositif pada deteksi dini. Pelaksanaan tatalaksana pengobatanyang tepat juga harus dilakukan pada pasien yang terdapat lesipra kanker leher rahim. Selain itu pada tujuan khusus dariP2PTM harus diperjelas kembali terkait alat ukur yangdigunakan untuk menilai tujuan tersebut. Dengan ditetapkannyaalat ukur diharapkan dapat memudahkan dalam menganalisisketercapaian dan keberhasilan dari SaranDalam rangka menciptakan program kesehatan yang berdayaguna dan tepat guna khususnya pada penanggulangan penyakit kankerserviks, terdapat beberapa saran yang mungkin dapat menjadi referensimeliputi1. Peningkatan edukasi, promosi kesehatan terkait kanker serviks,dan pengenalan program penanggulangannyaMencerdaskan dan memberdayakan masyarakat melaluiedukasi dan promosi kesehatan terkait kanker serviks sangatlahpenting guna mengurangi kejadian kanker serviks. Dengan adanya peningkatan pengetahuan dan informasi padamasyarakat diharapkan terjadi peningkatan kesadaranmasyarakat untuk mawas diri dan memeriksakan kesehatandirinya masing-masing. Media edukasi yang dapat digunakandapat menggunakan media sosial ataupun youtube yang saat inidiminati masyarakat, dan akan lebih baik tidak melalui susah pembuatannya, tetapi juga cukup merepotkan agarmasyarakat mau mengunduh aplikasi tersebut. Tidak hanya itu,perlu ada upaya bersama dari lembaga di masyarakat agarprogram tetap dapat whatsapp grup dapat digunakan antarafasilitas pelayanan kesehatan dengan pasien, masyarakat,ataupun dengan tokoh masyarakat untuk memberikan informasiterkait urgensi kanker serviks ataupun penjadwalan untukpemeriksaan rutin. Dengan adanya integrasi yang dimulai daribottom-up ke top-down ataupun sebaliknya dengan baik, makacakupan pemeriksaan dini akan dapat meningkat karenamasyarakat sudah sadar akan pentingnya skrining dan deteksidini kanker serviks. Edukasi dan promosi kesehatan terkaitkesehatan remaja juga perlu dilakukan agar dapatmengantisipasi kejadian menikah itu, perlu adanya sosialisasi kembali terkaitvaksin HPV untuk anak perempuan ataupun anak vaksin HPV sangatlah penting untuk perlindungansetiap individu sedari dini agar terbentuk antibodi yang mampumelawan infeksi HPV di kemudian hari. Terlebih programvaksinasi misalnya saat vaksin COVID-19 sudah diketahuimasyarakat dan saat ini merupakan waktu yang tepat untukmemprogramkan vaksin HPV untuk masyarakat. Pemberianprioritas vaksin HPV juga dapat ditingkatkan pada daerah yangmemiliki tingkat pasangan menikah muda menikah dini.Sasaran edukasi harus dilakukan secara menyeluruh orang tua,anak ataupun remaja, dan kelompok berisiko lainnya danterdistribusi dengan baik. 2. Perlunya menegakkan undang-undang terkait batasan usiapernikahan dini 19 tahunHal ini dilandaskan oleh Undang-Undang No. 16 Tahun2019 tentang Perkawinan, yang menyatakan bahwa perkawinanhanya dapat diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapaiumur 19 tahun. Namun, saat ini masih marak anak dengan usiadi bawah dari 19 tahun telah menikah dini sehingga terlihatlemahnya penerapan undang-undang ini. Tentunya kejadianpernikahan dini tersebut akan meningkatkan risiko kejadianpenyakit infeksi menular seksual termasuk kanker serviks yangakan berakibat pada peningkatan jumlah kasus kanker servikssetiap tahunnya. Perlu adanya dukungan dan kerjasama lintassektor sehingga antara hukum dan program yang diadakanberjalan sebagaimana mestinya. Penguatan kebijakan tentangperkawinan dapat dengan penegakkan sanksi. Namun balik lagipada kesadaran masyarakat untuk dapat menahan diri, menikahdi usia Pembiayaan vaksinasi HPV dapat ditanggung oleh BPJSDengan adanya universal health coverage dari BPJSkhususnya pada penanggulangan kanker serviks menjadiharapan masyarakat agar dapat mendapatkannya secara vaksin HPV yang cukup mahal menyebabkanmasyarakat kelompok marginal tidak memiliki akses untukmendapatkan vaksin tersebut, padahal memiliki andil yangbesar dalam penurunan kasus kanker serviks. Maka dari ituperlu adanya alokasi dana yang mumpuni mengenai programvaksinasi ini. Program vaksinasi HPV sangat bagus apabiladiterapkan karena mampu membentuk kekebalan masyarakatterhadap infeksi lainnya yang dapat dilakukan adalah mewajibkanmasyarakat untuk melakukan vaksinasi HPV. Denganmembaginya menjadi dua kelompok, yakni kelompok yangditanggung oleh BPJS dan kelompok yang membayar secara mandiri. Ketentuan dan persyaratan terkait kebijakannya dapatdiatur sebagaimana Pemerataan cakupan deteksi dini di setiap daerah di IndonesiaBerdasarkan gambaran data cakupan deteksi dini yangdidapatkan, masih terlihat adanya ketimpangan darimasing-masing daerah di Indonesia. Hal tersebut haruslahmenjadi prioritas pemerintah untuk memeratakan pelayananyang sama di setiap daerah khususnya pada deteksi dini kankerserviks. Pemerataan dan menyamakan standar sangat pentingagar cakupan deteksi dini meningkat sehingga mampumenghasilkan landasan keputusan dan kebijakan penanganankasus kanker serviks secara tepat, efektif, dan efisien. Daftar PustakaAmerican Cancer Society, 2020. Cervical Cancer Causes, Risk Factors, and Prevention.[online] Available atAmerican Cancer Society. 2018. The American Cancer Society's Oncology in PracticeClinical Management. John Wiley & Sons, Incorporated. ProQuest Ebook Available at et al., PANDUAN PENATALAKSANAAN KANKER SERVIKS. [online] Available atArbyn, M., et al., 2020. Estimates of incidence and mortality of cervical cancer in 2018 aworldwide analysis. Lancet Global Health 2020, 2016. Kenali Gejala Kanker Serviks Sejak Dini - Direktorat P2PTM. [online]Direktorat P2PTM. Available atBruni L, Albero G, Serrano B, Mena M, Collado JJ, Gómez D, Muñoz J, Bosch FX, deSanjosé S. ICO/IARC Information Centre on HPV and Cancer HPV InformationCentre. Human Papillomavirus and Related Diseases in Indonesia. Summary Report22 October 2018. Pilih Pap Smear atau Tes IVA, Lebih Baik Yang Mana?.[online] Available at Direktorat P2PTM. 2022. Struktur Organisasi - Direktorat P2PTM. [online] Available atDitjen P2P Kementerian Kesehatan RI. 2020. Rencana aksi program RAP at P. and Yasmon, A., 2019. Patogenesis Human Papillomavirus HPV pada KankerServiks. Jurnal Biotek Medisiana Indonesia, 81, 2020. Cancer today. [online] Available at 2021. Cervix Uteri Fact Sheets. [online] Available at 2021. Indonesia Fact Sheets. [online] Available atKementerian Kesehatan RI, Human Papilloma Virus. [online] Availableat [Accessed 23 May 2022].Kementerian Kesehatan RI, 2022. Kemenkes Tambah 3 Jenis Vaksin Imunisasi Rutin, SalahSatunya HPV. [online] Available atKementerian Kesehatan RI, 2022. PANDUAN PELAKSANAAN HARI KANKER SEDUNIA2022. [online] Available atKementerian Kesehatan RI, PANDUAN PENYELENGGARAAN PELAYANAN KANKERDI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN. [online] Available atKementerian Kesehatan RI, 2015. MANUAL PENCATATAN DAN PELAPORANPROGRAM DINI KANKER KANKER LEHER RAHIM DAN KANKER PAYUDARA.[online] Available atKementerian Kesehatan RI, 2014. Visi dan Misi Kementerian Kesehatan RepublikIndonesia. [online] Available at Kementerian Kesehatan RI. 2020. Profil Kesehatan Indonesia 2020. [online]. Available atKementerian Kesehatan RI. 2018. Laporan Kinerja Direktorat Pencegahan danPengendalian Penyakit Tidak Menular. Available atLegianawati, D., et al., 2019. Profil Penatalaksanaan Kanker Serviks Stadium IIB–IIIBdengan Terapi Radiasi dan Kemoradiasi di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. HasanSadikin Bandung Periode Tahun 2015–2017. Jurnal Farmasi Klinik Indonesia, 83, Alliance. 2017. Cancer NCD Alliance. [online] Available atNational Cancer Institute. 2022. Cervical Cancer Treatment PDQ–Patient Version.[online] Available at 2012. Symptoms of cervical cancer. [online] Available atNHS inform. 2022. Cervical cancer. [online]. Scotland’s national health information atPeraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2015 tentangPenanggulangan Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim. Available atPeraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2021 Tentang Menteri Kesehatan RI No. 21 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis KementerianKesehatan Tahun 2020-2024. Available at Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 71 tahun 2015 tentang Penanggulangan Penyakit TidakMenular. Available atPerry W, G., 2014. Advances in Cervical Cancer Management. Future Medicine Ebook Central. Available at Kemenkes RI, 2019. Penyakit Kanker di Indonesia Berada Pada Urutan 8 di AsiaTenggara dan Urutan 23 di Asia. [online] Direktorat P2P. Available atP2PTM Kemenkes RI, 2019. Apa itu Kanker? - Direktorat P2PTM. [online] DirektoratP2PTM. Available atP2PTM Kemenkes RI, 2019. Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dengan metode IVA atauPap Smear. [online] Direktorat P2PTM. Available atP2PTM Kemenkes RI, 2020. Seminar Kesehatan Deteksi Dini Tindak Lanjut KankerPayudara dan Kanker Leher Rahim di FKTP. [online] Direktorat P2PTM. Available atP2PTM Kemenkes RI, 2020. Visi Misi - Direktorat P2PTM. [online] Direktorat at Pusdatin Kemenkes RI, 2019. Beban Kanker di Indonesia. [online] Available atP2PTM Kemenkes RI, 2019. Apa saja Gejala Kanker Serviks Kanker Leher Rahim? -Direktorat P2PTM. [online] Available at Pusdatin Kemenkes RI, 2015. Situasi Penyakit Kanker. [online] Available atRasjidi, I., 2009. Epidemiologi Kanker Serviks. Indonesian Journal of Cancer, III 3, N., 2017. Modul Metode Pengendalian Penyakit Tidak Menular. 1st ed. [ebook]Bali Universitas Udayana. Available atSung, H., et al., 2021. Global Cancer Statistics 2020 GLOBOCAN Estimates of Incidenceand Mortality Worldwide for 36 Cancers in 185 Countries. CA A Cancer Journal forClinicians, 713.Stewart, et al, 2014. World Cancer Report 2014. [online] IARC. ProQuest EbookCentral. Available at American Cancer Society, 2018. The American Cancer Society's Oncology in Practice Clinical Management. 1st ed. Wiley-Blackwell, 2022. Cervical cancer. [online] Available atWHO. 2014. Comprehensive cervical cancer control a guide to essential practice. 2ndedition, page 36-43. Available atWHO, 2013. Comprehensive Cervical Cancer Prevention and Control A Healthier FutureFor Girls and Women. [ebook] Switzerland WHO. Available at ResearchGate has not been able to resolve any citations for this cancer is a type of cancer with the second most cases at Dr. Hasan Sadikin General Hospital RSHS Bandung and 82% of those cases are stage II and III. Recommended therapy for cervical cancer stage IIB–IIIB according to the National Medical Services guidelines for cervical cancer PNPK is chemoradiation or radiotherapy. The purpose of this study was to provide an overview of the management profile of stage IIB–IIIB cervical cancer with radiotherapy and chemoradiation at RSHS in 2015–2017. This study was an observational study with a cross-sectional method. Retrospective data collection was carried out from medical records of patients in Radiation Oncology Installation and Hospital Information System SIRS with inclusion criteria of adult patient with over 18 years of age, having complete clinical and therapeutic data and not having any comorbidities. Obtained data were analyzed descriptively and statistically with Kruskal Wallis test for numerical data and Chi-Square test and Fisher’s Exact test for categorical data. A total of 234 patients’ data met the criteria. Ninety four percent of patients came from West Java, were housewives and had a primary school education level. Most of patients were given radiotherapy with a total dose of about 6700–7200cGy and the average length of therapy was 14 weeks. The average time for a patient to obtain therapy after registering for therapy was about 7 weeks. Cisplatin was the first line chemotherapy regimen given to patients with chemoradiation with a frequency of 1–5 times administration. The most common side-effects of cervical cancer therapy with radiotherapy or chemoradiation were nausea and vomiting. Cost-effectiveness analysis will be carried out in further research to find out which therapies are better in terms of therapy and The knowledge that persistent human papillomavirus HPV infection is the main cause of cervical cancer has resulted in the development of prophylactic vaccines to prevent HPV infection and HPV assays that detect nucleic acids of the virus. WHO has launched a Global Initiative to scale up preventive, screening, and treatment interventions to eliminate cervical cancer as a public health problem during the 21st century. Therefore, our study aimed to assess the existing burden of cervical cancer as a baseline from which to assess the effect of this initiative. Methods For this worldwide analysis, we used data of cancer estimates from 185 countries from the Global Cancer Observatory 2018 database. We used a hierarchy of methods dependent on the availability and quality of the source information from population-based cancer registries to estimate incidence of cervical cancer. For estimation of cervical cancer mortality, we used the WHO mortality database. Countries were grouped in 21 subcontinents and were also categorised as high-resource or lower-resource countries, on the basis of their Human Development Index. We calculated the number of cervical cancer cases and deaths in a given country, directly age-standardised incidence and mortality rate of cervical cancer, indirectly standardised incidence ratio and mortality ratio, cumulative incidence and mortality rate, and average age at diagnosis. Findings Approximately 570 000 cases of cervical cancer and 311 000 deaths from the disease occurred in 2018. Cervical cancer was the fourth most common cancer in women, ranking after breast cancer 21 million cases, colorectal cancer 08 million and lung cancer 07 million. The estimated age-standardised incidence of cervical cancer was 131 per 100 000 women globally and varied widely among countries, with rates ranging from less than 2 to 75 per 100 000 women. Cervical cancer was the leading cause of cancer-related death in women in eastern, western, middle, and southern Africa. The highest incidence was estimated in Eswatini, with approximately 65% of women developing cervical cancer before age 75 years. China and India together contributed more than a third of the global cervical burden, with 106 000 cases in China and 97 000 cases in India, and 48 000 deaths in China and 60 000 deaths in India. Globally, the average age at diagnosis of cervical cancer was 53 years, ranging from 44 years Vanuatu to 68 years Singapore. The global average age at death from cervical cancer was 59 years, ranging from 45 years Vanuatu to 76 years Martinique. Cervical cancer ranked in the top three cancers affecting women younger than 45 years in 146 79% of 185 countries assessed. Interpretation Cervical cancer continues to be a major public health problem affecting middle-aged women, particularly in less-resourced countries. The global scale-up of HPV vaccination and HPV-based screening-including self-sampling-has potential to make cervical cancer a rare disease in the decades to come. Our study could help shape and monitor the initiative to eliminate cervical cancer as a major public health problem. Funding Belgian Foundation Against Cancer, DG Research and Innovation of the European Commission, and The Bill & Melinda Gates Foundation. Hyuna SungJacques FerlayRebecca L. SiegelFreddie BrayThis article provides an update on the global cancer burden using the GLOBOCAN 2020 estimates of cancer incidence and mortality produced by the International Agency for Research on Cancer. Worldwide, an estimated million new cancer cases million excluding nonmelanoma skin cancer and almost million cancer deaths million excluding nonmelanoma skin cancer occurred in 2020. Female breast cancer has surpassed lung cancer as the most commonly diagnosed cancer, with an estimated million new cases followed by lung colorectal %, prostate and stomach cancers. Lung cancer remained the leading cause of cancer death, with an estimated million deaths 18%, followed by colorectal liver stomach and female breast cancers. Overall incidence was from 2-fold to 3-fold higher in transitioned versus transitioning countries for both sexes, whereas mortality varied 2021. Cervix Uteri Fact Sheets. [online] Available at 2021. Indonesia Fact Sheets. [online] Available atR I Kementerian KesehatanKementerian Kesehatan RI, Human Papilloma Virus. [online] Available at [Accessed 23 May 2022].Kemenkes Tambah 3 Jenis Vaksin Imunisasi Rutin, Salah Satunya HPVR I Kementerian KesehatanKementerian Kesehatan RI, 2022. Kemenkes Tambah 3 Jenis Vaksin Imunisasi Rutin, Salah Satunya HPV. [online] Available at
Penyebab kanker serviks atau kanker leher rahim masih belum diketahui secara pasti. Namun, penyakit ini kerap dikaitkan dengan infeksi human papillomavirus HPV. Selain itu, kemunculan kanker ini juga berhubungan erat dengan faktor keturunan dan penyakit menular seksual. Di Indonesia, kanker serviks menempati peringkat kedua untuk jenis kanker yang paling banyak dialami wanita, setelah kanker payudara. Kanker ini terbentuk ketika sel-sel di serviks atau mulut rahim berkembang menjadi ganas. Meski belum diketahui penyebab kanker serviks secara pasti, setiap wanita perlu mengetahui faktor risiko apa saja yang bisa membuat dirinya lebih rentan terkena kanker serviks. Hal ini penting untuk mencegah kemunculan kanker serviks. Penyebab Kanker Serviks dan Faktor Risikonya Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penyebab kanker serviks sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini, yaitu 1. Infeksi human papillomavirus HPV Hampir seluruh kasus kanker serviks dipicu oleh infeksi virus HPV. Pasalnya, sel-sel di leher rahim yang terinfeksi virus ini bisa mengalami pertumbuhan tidak normal dan menjadi ganas. Sementara itu, seorang wanita juga dapat terinfeksi HPV dari perilaku seks berisiko, misalnya sering berganti pasangan seksual dan berhubungan seks tanpa kondom. 2. Penyakit menular seksual Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa risiko kanker serviks lebih tinggi dialami wanita yang pernah menderita penyakit menular seksual, seperti kutil kelamin, klamidia, gonore, dan sifilis. Wanita yang sedang terinfeksi virus HPV juga memiliki risiko tinggi terkena kanker serviks. Hal ini karena infeksi HPV bisa muncul bersamaan dengan penyakit menular seksual. 3. Pola hidup tidak sehat Wanita dengan berat badan berlebih serta jarang mengonsumsi buah dan sayur juga dapat menjadi pemicu terjadinya kanker serviks. Risiko ini akan semakin meningkat jika wanita tersebut memiliki kebiasaan merokok. Zat kimia pada tembakau diyakini dapat merusak DNA dalam sel dan menyebabkan kanker serviks. Tak hanya itu, merokok juga membuat sistem kekebalan tubuh menjadi lebih lemah sehingga kurang efektif dalam melawan infeksi HPV. 4. Sistem kekebalan tubuh yang lemah Seorang wanita dengan sistem imun tubuh yang lemah umumnya lebih rentan terinfeksi HPV, misalnya penderita HIV/AIDS. Selain itu, wanita yang menjalani pengobatan untuk menekan daya tahan tubuh, seperti pengobatan kanker dan penyakit autoimun, juga lebih berisiko terinfeksi HPV yang dapat memicu terjadinya kanker serviks. 5. Penggunaan pil KB Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kontrasepsi oral atau pil KB dalam waktu yang lama, dapat meningkatkan risiko kanker serviks. Sebagai alternatif yang lebih aman untuk mencegah kanker serviks, pilihlah metode kontrasepsi lain, seperti IUD atau KB spiral. Namun, memang masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan pil KB yang dapat memicu terjadinya kanker serviks tersebut. Untuk memilih jenis kontrasepsi yang tepat dan cocok, sebaiknya konsultasikan ke dokter kandungan lebih dulu. 6. Hamil usia muda dan sudah beberapa kali hamil serta melahirkan Mengandung untuk pertama kali saat berusia kurang dari 17 tahun dapat membuat seorang wanita lebih rentan terkena kanker serviks. Wanita yang pernah hamil dan melahirkan lebih dari 3 kali juga diduga lebih berisiko terkena kanker serviks. Menurut penelitian, sistem kekebalan tubuh yang melemah dan perubahan hormon selama masa kehamilan dapat membuat wanita lebih rentan terhadap infeksi HPV. 7. Riwayat konsumsi obat hormon DES DES atau diethylstilbestrol merupakan obat hormonal yang diberikan untuk mencegah keguguran. Tak hanya pada wanita hamil, obat ini juga dapat meningkatkan risiko kanker serviks pada janin perempuan yang dikandungnya. 8. Faktor keturunan Seorang wanita memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker serviks, jika ada keluarga perempuannya yang pernah terdiagnosis penyakit serupa. Belum diketahui secara pasti apa yang mendasari hal ini, tetapi diduga berkaitan dengan faktor genetik. Perlu diingat bahwa jika seseorang memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko di atas, bukan berarti ia pasti terkena kanker serviks. Faktor-faktor di atas hanya sekadar dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks. Untuk menekan risiko penyebab kanker serviks, Anda perlu menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari dan jauhi perilaku seks berisiko. Jangan lupa untuk mendapatkan vaksinasi HPV guna mencegah kanker serviks serta menjalani skrining atau deteksi dini kanker serviks dengan pemeriksaan pap smear atau tes IVA. Langkah pencegahan dengan melakukan skrining kanker serviks bisa Anda lakukan saat berkonsultasi dengan dokter. Biasanya, dokter juga akan menentukan waktu pemeriksaan yang tepat dan sesuai dengan kondisi serta penyebab kanker serviks yang dialami.
faktor risiko kanker serviks pdf