dengan baik. Pola asuh bertujuan untuk membangun serta membentuk karakter dan perilaku anak, termasuk dalam ranah sosial budaya ke-Madura-an (Iskandar Dzulkarnain, 2013). Pola asuh demokratis di Desa Batuan terbentuk dari lingkungan keluarga. Orang tua di Desa Batuan menerapkan pola asuh demokratis
pola asuh terhadap anak yang berbeda-beda. Pola asuh menurut Baumrind (dalam Yusuf 2008) terdiri dari tiga kecenderungan pola asuh orang tua yaitu: “pola asuh demokratis, pola asuh otoriter, dan pola asuh permisif”. Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai
1. Pola Asuh Demokratis Pola asuh yang demokratis adalah pola pemeliharaan anak atau kendali orang tua terhadap anak dengan cara kesederajatan dan lebih mengutamakan kepentingan serta hak anak. Skala pola asuh demokratis yang digunakan oleh penulis mempakan skala yang disusun oleh Kohn (dalam Winarto, 1990) yang
1. Angket Pola Asuh Orang Tua Demokratis. Angket dalam penelitian ini terdiri dari 12 indikator yang terdiri dari item positif dan item negatif. Keseluruhan item berjumlah 60 item yang terdiri dari 37 item positif dan 23 item negatif. Peneliti mengadopsi indikator yang digunakan oleh Nobertus (2001) dalam melakukan penelitian.
Adapun ciri-ciri pola asuh demokratis menurut Baumrind (Respati, Yulianto & Widiana, 2006) antara lain : a. Adanya kendali dari orangtua, kontrol terhadap perilaku anak dengan standar yang telah ditetapkan oleh orangtua, usaha untuk merubah perilaku kekanak-kanakan, kecenderungan perilaku agresif, ketergantungan. b.
5. Memberi hukuman yang kasar. Contoh pola asuh otoriter adalah orangtua menggunakan rasa takut anak sebagai sumber kontrol utama. Ketika anak melanggar aturan, alih-alih memberikan perhatian, mereka justru akan bereaksi dengan amarah dan kasar. Orangtua juga tak segan memberi hukuman agar anak selalu patuh.
.
contoh pola asuh demokratis